HOME

HOME

ABOUT US

KESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pemahaman Alkitab

PEMAHAMAN ALKITAB                MARET 2019 (I)

Bacaan : Kisah Para Rasul 7:30-34
Kalender Liturgis : Minggu Transfigurasi/Hari Doa Sedunia (HDS)
Tema Liturgis : Kedaulatan, Cinta, dan Keadilan Allah Berjalan Seiring dan Indah Pada Waktunya.


Keterangan Teks

Perikop kita ini merupakan kutipan dari kotbah Stefanus di depan mahkamah Sanhedrin: Khotbah stefanus ini adalah pembelaan iman sebagaimana diberitakan oleh Kristus dan para rasul. Dengan khotbah ini menegaskan bahwa Stefanus merupakan pelopor bagi semua orang yang membela iman alkitabiah terhadap mereka yang menentang atau memutarbalikkan ajaran Kristiani, dan dialah syahid yang pertama karena alasan itu. Yesus membenarkan tindakan Stefanus dengan menghormatinya di hadapan Allah Bapa di sorga (lihat Kisah Para Rasul 7:55).

Kasih Stefanus akan kebenaran serta kesediaannya untuk mengorbankan hidupnya guna mempertahankan kebenaran itu sangat bertentangan dengan mereka yang kurang perhatikan untuk “berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yudas 1:3) dan mereka yang atas nama kasih, hubungan baik, dan toleransi, tidak merasa perlu untuk menentang para guru palsu dan pemutar balik kemurnian Injil hasil karya kematian Kristus (lihat Galatia 1:9).

Perikop ini diawali dengan keterangan waktu “sesudah empat puluh tahun” yang merujuk kepada lamanya Musa mengalami pengtemblengan sebelum diutus menjadi pemimpin umat Israel (ayat 34). Stefanus menyampaikan pandangannya mengenai sejarah Israel, yang dimulainya dengan “Allah yang Mahamulia” (God of glory-lihat ayat 2) menampakkan diri kepada Abraham di Mesopotamia, dengan demikian menata pidatonya sejak awal dengan tema utamanya: bahwa Allah tidak diam hanya pada satu gedung tertentu (maksudnya Bait Suci – lihat ayat 2-8 ). Kemudian, Stefanus mengulangi kisah kehidupan para leluhur Israel, lebih mendalam terutama untuk: Abraham, Yusuf dan Musa (ayat 32). Untuk Musa ia memberikan ulasan paling detail, termasuk penampakan Allah dalam “semak duri berapi” (ayat 30–32), yang mengilhami Musa untuk memimpin umatnya keluar dari Mesir.

Dari perikop ini, bebarapa hal yang menjadi pelajaran iman kita adalah:
Kasih Stefanus dalam mempertahankan imannya dengan membela kebenaran/kemurnian Injil (mati Syahid).
Mengingat karya kasih Allah yang telah terjadi sepanjang sejarah dan kehidupan pribadi kita, menjadi penopang yang kuat bagi iman kita dalam menghadapi situasi yang buruk.
Masa sulit yang dialami Musa (selama 40 tahun) dan kondisi tertekan Stefanus (diacam hukuman mati) adalah masa penggmblengan iman dan pemurnian Iman kepada Tuhan Yesus Kristus,
Rencana Allah yang Mahamulia tidak selalu ditunjukkan dengan akhir kisah yang sukses (happy ending) saat di dunia; Musa tidak dijinkan masuk tanah Perjanjian, Stefanus mati dilempari batu. Namun keduanya melihat dan menikmati kemuliaan Allah dalam hidup selanjutnya (kekal).

Kondisi Masa Kini

Negeri tencinta kita selalu ramai dengan isu-isu SARA; golongan radikal yang menghembuskan hawa intoleransi banyak berhasil menyalakan api penindasan kepada golongan tertentu (ingat tuduhan dan vonis hukuman penistaan agama), termasuk iman Kristen. Hawa beraroma SARA ini semakin menggelora ketika terjadi pemilihan pimpinan pemerintahan, mulai dari tingkat desa sampai presiden (PILPRES).

Agama-agama yang disebut minoritas (dalam jumlah, tidak identik minoritas dalam kualitas) sering menjadi korban peraturan dan bahkan gaya hidup dan budaya dari kelompok pengamut agama tertentu. Contohnya peraturan seragam sekolah, seragam pegawai pemerintah, membangun tempat ibadah (pembongkaran dan penyegelan gereja), dll. Pandangan negatif (merendahkan) kepada seseorang atau golongan dengan gaya berbusana tertentu (bahkan budaya busana Jawa –kebaya- dinilai vulgar). Busana timur-tengah seakan mencerminkan tingkat rohani lebih tinggi. Ditambah pula perang ekonomi (dagang) dengan berdasarkan lebel dari kelompok agama tertentu, dan menggembar-gemborkan anti terhadap produk tertentu (baik makanan, minuman, pakaian, perumahan, sampai kos-kosan); yang didukung oleh media massa (stasiun TV) dan media sosial (jaringan internet dengan nitizen-nya dan aplikasinya semacam IG, WA, FB, live streaming, dll).

Situasi ini menjadikan golongan minoritas (dalam jumlah) hidup dalam tekanan dan kesulitan, sebaliknya golongan mayoritas (dalam jumlah) seakan berubah menjadi dewa penjajah yang mengalahkan Kedaulatan Allah yang mutlak. Munculah fenomena perpindahan agama karena ekonomi, pekerjaan, perkawinan, maupun tempat tinggal. Tidak jarang pula iman Kristen yang menjadi pertaruhanya.

Sesuai moment HDS ini tentu kita berdoa, memohon kekuatan iman bagi pengikut Ktistus yang menjadi korban intolenransi di negeri tercinta ini. Kedua, kita berdoa agar NKRI tetap berdiri berdasarkan azas yang telah disepakati oleh para pendiri NKRI; yaitu Pancasila dan UUD’45.

Penerapan
Diskusikanlah hal-hal berikut ini:

1. Mengapa banyak pengikut Kristus yang tidak mampu mempertahankan imannya?
2. Bagiamana sikap dan pemikiran kita tentang fenomena perpindahan agama di NKRI ini yang berisikan masyarakat majemuk (multicultural)?
3.Bagimana peran Keluarga dan Lembaga Gereja, serta masyarakat (pemerintah) dalam persoalan perpindahan agama?
                                                                            

Sumber: https://gkjw.or.id

| A R S I P |

 

 

Copyright © 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.