HOME

HOME

ABOUT US

KESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pemahaman Alkitab

PEMAHAMAN ALKITAB                 
 
                                                                                        Mei 2019 (I)

Bacaan : Wahyu 5:1-10

Tema Liturgis : Pemeliharaan Allah bagi orang percaya Tiada Habisnya.
Tema PA : Merasakan Pemeliharaan Allah dalam kehidupan sehari-hari

Waktu dan tempat dan tujuan penulisan (umum)

Kitab Wahyu dengan jelas menunjukkan bahwa kitab ini ditulis di tengah-tengah penganiayaan besar. Penganiayaan yang diperintahkan oleh Nero yang hanya terbatas di kota Roma saja, tetapi penganiayaan yang diperintahkan oleh Domitian menjangkau wilayah-wilayah yang lain dari kekuasaan Roma. Domitian mengasingkan orang percaya ke berbagai tempat pengasingan, sementara Nero tidak melakukan hal itu. Selanjutnya. ketujuh jemaat di Asia dalam surat ini menunjukkan suatu perkembangan yang sudah lama, keadaan di mana nyaris tidak mungkin ada pada tahun 65 M. dan selanjutnya kita tidak memiliki bukti yang kuat bahwa Rasul Yohanes memiliki kewenangan tertentu atas jemaat-jemaat di Asia sebelum Yerusalem dihancurkan. Pandangan ini dianut oleh para penulis seperti Lange, Alford, Elliott, Godet. Lee, Milligan. dan lain-lain.

Kitab Wahyu ini mempunyai tujuan di antaranya
1. Surat-surat kepada tujuh jemaat itu menyatakan adanya penyimpangan yang parah terhadap standar kebenaran rasuli yang sedang terjadi di antara banyak jemaat di Asia. Maka atas nama Kristus, Yohanes menulis kitab ini untuk menegur tindakan kompromi dan dosa mereka, serta menghimbau mereka untuk bertobat dan berbalik kepada kasih mereka yang mula-mula.
2. Mengingat penganiayaan yang diakibatkan oleh karena Domitianus memuja dirinya sendiri, kitab Wahyu telah dikirim kepada jemaat-jemaat guna meneguhkan iman, keteguhan hati, dan kesetiaan mereka kepada Yesus Kristus, serta untuk memberi semangat kepada mereka agar mereka menjadi pemenang dan tinggal setia sampai mati sekalipun.

Pandangan spiritualitas kitab Wahyu ini menekankan makna spiritual di balik pewartaan Kitab tersebut. Penglihatan-penglihatan yang dipaparkan dalam kitab ini dipahami sebagai ungkapan kebenaran rohani yang kekal, yang selalu dinyatakan di sepanjang sejarah. Dalam pandangan ini, pewartaan kitab Wahyu selalu dimaknai secara alegoris. Gambaran-gambaran yang ada di dalamnya dianggap sebagai alegori peristiwa-peristiwa di akhir zaman.

Pada narasi teks Wahyu 5:1-10, ditampilkan tentang Tuhan yang memegang gulungan kitab yang ditulisi sebelah dalam dan luarnya dan dimaterai dengan tujuh meterai. Dan Yohanes menangis karena tidak ada seorangpun yang dianggap layak untuk membuka gulungan itu. Tetapi di tengah kesedian itu Yohanes mendengar suara yang mengatakan bahwa singa dari suku Yehuda, dari tunas Daud telah menang, (tunas Daud itu adalah Tuhan Yesus) dan dapat membuka gulungan kitab itu dan ketujuh materainya. (tujuh materai dipahami sebagai wasiat) wasiat itu dibuka di depan ketujuh saksi, dokumen dengan tujuh materai adalah lambang dari suatu janji tentang kerajaan yang akan datang.

Selanjutnya Yohanes melihat bahwa Anak Domba bertanduk tujuh dan bermata tujuh yang telah disembelih berdiri di tengah-tengah tua-tua. Anak Domba itu adalah Yesus Kristus yang telah mati disalib yang bertanduk tujuh yang berarti bahwa Dia dalam kemuliaan-Nya mempunyai kerajaan kekal, dan tujuh mata menunjukkan kemaha tahu-an-Nya. Pada akhirnya keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua tersungkur menyembah Anak Domba, sebagai simbul bahwa mereka mengagungkan Tuhan yang telah memeliharanya, dan pemeliharaan-Nya tiada pernah berakhir. Atas keselamatan, pemeliharaan dan penyertaan Yesus Sang anak Domba yang telah mati dan bangkit bagi mereka, setiap suku, dan segala bangsa, maka disuarakanlah nyanyian baru, pujian bagi Dia, bahkan Tuhan menjadikan milik-Nya menjadi suatu kerajaan (simbul mempercayakan diri pada Tuhan sebagai raja), dan imam-imam bagi Allah, yang berarti siap melayani Tuhan, karena merasakan bahwa pemeliharaan-Nya tidak akan pernah berkesudahan.

Dalam perjalanan kehidupan orang Kristen, sudah selayaknya mengakui bahwa kasih Tuhan tidak akan berkesudahan, Dia yang Maha Kudus sesungguhnya telah menguduskan kehidupan kita, dengan kerelaan-Nya mati dan bangkit bagi dunia. Kristus sebagai Tuhan yang mempunyai kerajaan Kekal selalu hadir bagi kita, Ia dengan kuasa-Nya yang kekal memelihara kehidupan umat-Nya, karena itu selayaknya kita taat, setia, dan mengakui akan penyertaan-Nya dalam kehidupan ini.

Pertanyaan untuk didiskusikan bersama
1.Apakah saudara merasakan bahwa Tuhan Yesus menyertai kehidupan saudara? Apakah wujud pemeliharaan Tuhan yang saudara alami? (sharingkan)
2.Bagaimana bisa merasakan bahwa Tuhan Allah itu memelihara kehidupan saudara?
3.Bila saudara mengalami kesengsaraan (hal yang membuat sedih/susah), apakah saudara yakin bahwa Tuhan mengasihi saudara? Mengapa?


                                                         

                                                                         

Sumber: https://gkjw.or.id

| A R S I P |

 

 

Copyright 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.