HOME

HOME

ABOUT US

KESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pemahaman Alkitab

PEMAHAMAN ALKITAB                 
 
                                                                                                               Mei 2019 (II)

Bacaan : Amsal 2:1-5.
Kalender Liturgis : Minggu Paskah V/Masa Raya Undhuh-undhuh.
Tema Liturgis : Pemeliharaan Allah Bagi Orang Percaya Tiada Habisnya.
Tema PA : Persekusi, perundungan, hoax, dan apalagi?

Tujuan:
1. Agar warga jemaat mengetahui tentang cara Allah memelihara kita, yakni dengan hikmat.
2. Agar warga jemaat memahami bahwa kita (umat-Nya) wajib menanggapi (merespon) pemeliharaan-Nya di kehidupan riil (nyata).
3. Agar warga jemaat melatih diri untuk hidup dengan memberlakukan hikmat pemberian-Nya.

Keterangan Teks/Kitab:

Ayat 1: ‘Hai anakku…..’. Hikmat diwariskan kepada orang muda oleh generasi yang lebih tua, khususnya dari orang tua kepada anak.

‘… dan menyimpan perintahku…’. Hanya dengan menyimpan firman Allah di dalam pikiran kita, maka kita akan belajar untuk hidup dengan bijaksana dan benar dalam hubungan kita dengan Allah (ay.5). Kita dapat mengalahkan dosa dengan perintah-perintah Allah di dalam hati kita (Mazmur 119:11) dan firman Kristus yang tinggal di dalam diri kita (Yohanes 15:7; Yakobus 1:21).

Ayat 1-10: Hikmat diperoleh hanya melalui pengenalan akan Allah. Hikmat memang sukar diperoleh, tetapi pantas untuk diusahakan dengan segala daya untuk memperolehnya.

Ayat 3-6: Hikmat/kearifan datang dalam dua cara, yaitu: merupakan sebuah anugerah pemberian Allah dan merupakan hasil/buah dari pencarian yang penuh semangat. Titik tolak hikmat/kearifan adalah Allah dan penyataan-Nya dalam Firman, yang menjadi sumber ‘pengetahuan dan kepandaian’ (2:6). Dalam keyakinan kita, hikmat/kearifan adalah anugerah-Nya bagi kita. Namun, Ia memberinya hanya untuk mereka yang bersungguh-sungguh mencarinya (hikmat/kearifan). Sebab hikmat/kearifan Allah tersembunyi bagi orang fasik. Dibutuhkan usaha untuk menemukannya dan menggunakannya. Lorong menuju ke hikmat/kearifan adalah berat. Jika kita ada di lorong itu, maka kita membuka tabir dan menemukan bahwa hikmat/kearifan sebenarnya adalah hikmat/kearfian Allah dan bahwa Ia akan membimbing kita dan mengganjar pencarian kita yang tulus hati dan tekun.

Hikmat dapat menjaga kita terhadap pergaulan yang jahat (ayat 12-15) dan terhadap perempuan jalang (ayat 16-19). Hikmat menjejakkan kaki kita di jalan yang benar (ayat 20).

Realitas Kehidupan Kini dan Penerapan:
Persekusi = pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga yang kemudian disakiti, dipersusah, atau ditumpas. Memersekusi = menyiksa, menganiaya. Hal tsb terjadi pada hari Minggu 29 April 2018 di car free day (hari bebas berkendaraan bermotor) Jakarta. Perilaku buruk tsb terjadi atas diri seorang ibu dan anaknya, a.l dikata-katai bloon lu, dst. Hal itu terjadi karena ibu tsb memakai kaos dengan warna dan tulisan yang berbeda dengan kaos yang digunakan oleh sekelompok orang yang memersekusinya. Ibu tsb melaporkan peristiwa itu ke polisi.

Karena beda, orang menjadi agresif (bersifat atau bernafsu menyerang) dan beringas (liar, pandangan mata) menghadapinya. Bukankah perbedaan itu sebuah keniscayaan, pasti, tidak boleh tidak ada? Apakah kita mau berbagi sifat agresif dan beringas?

Adalagi perundungan (= ejekan yang dilakukan secara terus menerus kepada korban). Tidak sedikit korban perundungan yang mengambil jalan pintas karena tak tahan diejek terus menerus, diantara mereka ada yang mengucilkan diri (misalnya, tidak mau sekolah lagi), bahkan ada yang bunuh diri.

Kini, secara umum kondisi bangsa dan negara RI terganggu dengan adanya hoax. Namun, sekelompok mahasiswa di Surabaya berhasil menemukan ‘Aplikasi Uji Hoax (berita bohong)’. Aplikasi tsb memungkinkan pengguna mengklarifikasi dan membantu proses kurasi/mengelola informasi yang didapatkan dari dunia maya. Artinya, mereka berbagi hal positif agar hoax tidak semakin merajalela.

Di kalangan masyarakat Jawa, ada sebuah nasihat yang berbunyi: ‘Aja ngomong waton, nanging ngomonga nganggo waton’. Arti nasihat ini adalah: jangan asal berbicara, tetapi bicaralah dengan menggunakan patokan atau alasan yang jelas! Nasihat ini mengajak kita untuk berbicara dengan cara yang tidak ngawur atau ‘ngayawara’. Usahakan agar setiap pembicaraan benar- benar memiliki landasan ataupun alasan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian maka kualitas hidup dapat dijaga tetap baik dan dapat menjadi teladan baik bagi sesama serta lingkungannya. Masyarakat Jawa mau berbagi hal yang dapat dipertanggungjawabkan.

Metode:
Untuk memenuhi harapan dan tujuan di atas (a, b, dan c), maka perlu sebuah percakapan dinamis dalam PA ini, dengan menjawab dan menjelaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

1. Apa yang anda ketahui tentang hikmat? Bagaimana cara anda mendapatkannya?
2. Apa tanggapan dan pendapat anda tentang persekusi, perundungan, hoax, dll. Bagaimana cara anda menghindari hal-hal semacam itu?
3. Apakah anda mempunyai tip atau pengalaman pribadi sebagai bentuk latihan untuk dapat hidup dengan hikmat pemberian-Nya?                                                                                      
                                                        
                                                                         

Sumber: https://gkjw.or.id

| A R S I P |

 

 

Copyright © 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.