HOME

HOME

ABOUT US

KESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pemahaman Alkitab

Pemahaman Alkitab (PA)
  
                                                                                               
                                                                                                  September 2019 (II)
Bulan Kitab Suci

Bacaan:
Yohanes 10 : 11 – 21
Tema liturgis :
Firman Allah Menerangi dan Menuntun Umat Kepada Kebenaran
Tema PA :
Tanggung Jawab Pengikut Kristus
Tujuan PA :

Jemaat dihantarkan untuk dapat memahami adanya relasi Yesus sebagai Gembala yang Baik dan jemaat selaku domba kepunyaan-Nya
Jemaat menyadari hakekat dan tanggung jawabnya sebagai kawanan domba milik Tuhan di dalam kehidupan sehari-hari

Penjelasan Teks : YOHANES 10 : 11 – 21
Injil Yohanes adalah satu satunya Injil yang menggunakan sudut pandang/perspektif yang berbeda dengan ketiga Injil sinoptik yang lain (Matius, Markus dan Lukas). Injil-Injil sinoptik dianalogikan seperti laporan tiga wartawan dengan gaya penulisannya masing-masing atas suatu peristiwa yang sama. Sedangkan penulis Injil Yohanes (dalam tradisi Gereja dilambangkan dengan burung rajawali) menggunakan sudut pandang bird eye, artinya melihat suatu peristiwa dengan cara pandang yang lebih luas sekaligus juga fokus membidik pesan dari suatu peristiwa yaitu kisah Yesus dari Nazaret. Melalui berbagai metafora namun juga sekaligus fokus hendak menjalaskan Yesuslah Mesias, Anak Allah.

Yesus Kristus yang disaksikan oleh penulis Injil Yohanes diperkenalkan dengan metafora/gambaran dengan ungkapan khas ‘’Aku adalah’’. Ditarik dari tradisi Perjanjian Lama, ungkapan ‘’Aku adalah/Akulah’’ adalah juga cara Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya kepada umat pilihan, bangsa Israel. (bdk. Kitab Keluaran 3: 13-15 ‘’AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu’’) Ungkapan ini berarti Tuhan Allah adalah yang sekarang ada, yang akan ada, dan yang menyebabkan ada serta yang akan menggenapi rencana-Nya untuk seluruh umat dan ciptaan-Nya. Maka dengan fokus yang sama, penulis Injil Yohanes bermaksud memakai ungkapan ‘’Aku adalah’’ dalam diri Yesus untuk menghubungkan-Nya dengan hakikat Allah dan untuk menggambarkan tindakan-Nya bagi manusia.

Secara spesifik dalam Injil Yohanes 10: 11-21, Tuhan Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai jalan supaya melalui-Nya, umat Allah dapat berjumpa dengan Tuhan Allah dan dapat menjadi umat-Nya. Melalui ungkapan ‘’Akulah Gembala yang Baik’’, Tuhan Yesus digambarkan melalui suatu profesi yang sudah lazim dikenal pada waktu itu. Gembala meskipun suatu profesi yang rendah namun dimaknai tinggi karena tanggung-jawab besar yang diembannya yaitu menjaga kawanan kambing-domba miliknya.

Refleksi : RELASI ANTARA GEMBALA-DOMBA

Dalam teks Injil Yohanes 10 : 11-21 ditekankan adanya suatu relasi yang kuat antara Yesus Sang Gembala dengan kita sebagai domba kepunyaan-Nya. Disini kita dapat melakukan identifikasi baik terhadap gambaran Gembala maupun gambaran domba supaya semakin dipahami relasi yang terjadi.

Indentifikasi pertama meliputi gambaran tentang Gembala. Di dalam teks diperbandingkan antara Gembala yang Baik dengan orang upahan. Sebutan orang upahan disini dimaksudkan kepada para pemimpin Israel dan para pengajar Taurat yang kesannya mengajarkan hukum Allah namun sejatinya justru semakin menjauhkan umat dari Allah. Orang upahan ini tidak memiliki tanggung jawab yang baik sebab ketika dalam kondisi terdesak, mereka justru lari untuk menyelamatkan diri. Ini berbeda dengan Sang Gembala yang Baik, sebagai gambaran Sang Pemilik domba, yang bahkan rela mempertaruhkan nyawa bagi domba-dombaNya. (ayat 12-13).

Identifikasi kedua yaitu mengenai domba yaitu personifikasi dari kita, umat-Nya. Dituliskan disini ada semacam tanggung jawab yang menjadi bagian para domba, yaitu mengenal Gembala-Nya dan mendengarkan suara-Nya. (ayat 14, 16).

Maka dapat dipahami alih-alih relasi yang hanya satu arah ternyata justru ada relasi timbal balik antara Sang Gembala dengan domba-Nya. Bukan hanya Gembala yang harus aktif memperhatikan keberadaan kawanan domba dan domba tinggal secara pasif mengikut mau dibawa kemanapun. Namun domba juga perlu secara aktif mendengarkan dan juga merespon suara panggilan Sang Gembala. Sehingga jikalau domba hilang terperosok dalam jurang, dia bisa segera ditemukan ketika Gembala dan domba saling ada ‘komunikasi’ di antara mereka.

Penerepan Masa Kini
Dibawa dalam aplikasi kehidupan masa kini utamanya dalam kehidupan berjemaat, terkadang ada suatu tuntutan bahwa para pejabat khusus gerejawi (pendeta, penatua, diaken dan Guru Injil) harus berlaku bagaikan Gembala yang mampu memperhatikan keberadaan domba melalui pelayanan, perkunjungan dan perhatian yang lain. Jika warga jemaat kurang mendapatkan pelayanan maka mereka akan menyitir bagian ayat sbb: ‘gembala yang baik itu seharusnya mengenal domba-dombanya’. Padahal perlu disadari bahwa baik para pejabat khusus maupun warga jemaat semuanya pada hakekatnya adalah sama-sama sebagai domba. Ada domba yang dipercaya untuk memimpin dan ada domba yang dipimpin. Dan keseluruh domba ini perlu secara aktif merespon suara Sang Gembala Agung. (‘dan domba-dombaKu mengenal suara-Ku’) Sehingga adalah suatu hal yang tidak patut bila ada domba yang ditunjuk sebagai pemimpin kemudian sok berlagak macak sebagai Gembala, ataupun juga ada domba yang hanya pasif anut grubyug tanpa memiliki kesadaran secara aktif bahu membahu bersama pemimpinnya menjalankan tugas dan tanggung jawab yang ada.

Pertanyaan Diskusi
1. Jikalau situasi memungkinkan dan mendukung yaitu jika ada pejabat khusus gereja yang pada saat PA ini hadir sebagai jemaat/tidak melayani, mereka diberikan kesempatan untuk sharing suka-duka pelayanan yang selama ini dijalani. Juga kepada sejumlah warga jajar yang hadir diberikan kesempatan untuk menceritakan keluh kesahnya.
2. Pada bagian selanjutnya (dengan dituntun semangat untuk tidak saling menghakimi) para peserta PA kemudian diajak menginventarisir permasalahan dalam pelayanan gereja sekaligus mencoba menganalisa apa akar permasalahan yang ada. (supaya diskusi terfokus, pelayan dapat memilih satu atau dua permasalahan saja)
3. Pada bagian akhir, peserta PA diajak untuk mencari solusi pemecahan dari permasalahan yang ada dengan diterangi suatu konsep ‘What Would Jesus Do’ atau ‘apa yang akan Yesus lakukan’ bila menghadapi permasalahan seperti ini. Metode pemecahan masalah ini juga senada dengan konsep bird eye dari Injil Yohanes ini, melihat secara luas namun juga sekaligus fokus pada satu titik. Sehingga diharapkan melalui diskusi ini menjadikan jemaat semakin gemar menggumuli Kitab Suci. Selamat ber-PA ! (argo)
                                                                                             
 
                                                    
Sumber: https://gkjw.or.id

| A R S I P |

 

 

Copyright © 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.