HOME

HOME

ABOUT US

KESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pemahaman Alkitab

Pemahaman Alkitab Januari 2019
Dewan Pembinaan Teologi GKJW

Pemahaman Alkitab Januari 2019 (I)

Ayub 42: 7-17

Kitab Ayub dimulai dengan prolog yang berbentuk cerita diakhiri dengan sebuah epilog yang berbentuk cerita pula. Ayub akhirnya menemukan apa yang bagitu hangat ia dambakan: pembelasan dari Allah dan di depan komunitas. Kesimpulannya bergerak dari tiga tahap.

Yahweh memarahi Elifas dan sahabat-sahabatnya: “Kamu tidak berbicara benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub! (ay. 7). Ini sungguh ironis dan juga penting. Ayub baru saja mengatakan bahwa ia mengatakan hal-hal yang tidak ia pahami dan ia “menyesali” kata-katanya: Aku mencabut perkataanku. Hal pertama yang dikatakan Tuhan adalah: “Tidak, engkau tidak salah!”. Hal ini diulangi lagi pada ayat berikutnya. Ayub mengatakan sudah dibalas. Sekarang, jika para sahabatnya dapat lolos dari hukuman yang lebih berat, mereka harus mendekati Ayub, dan menyebutnya lagi “hamba” Allah. Ini yang ia berikan dan Allah menerimanya. Para sahabatnya tidak dihukum.
Sebagai tambahan, harta benda Ayub dikembalikan (ay. 10-11). Ia sendiri tidak pernah mengatakannya atau memintanya. Para sahabatnya telah menjanjikannya tetapi hanya kalau ia mengakui kesalahannya. Para sahabatnya dan sanak saudaranya Ayub sekarang datang dan memberikan penghiburan yang sungguh.
Akhirnya, Yahwe memberkati Ayub (ay. 12-17). Seperti kita lihat sebelumnya, berkat adalah kekuatan hidup dalam berbagai penampilannya. Sekarang persediaan hidup Ayub sudah kembali, berlipat dua jumlahnya daripada bab 1. Ia mempunyai tujuh anak laki-laki dan 3 anak perempuan, yang namanya melambangkan kecantikan mereka: Yemima (merpati), Kezia (wewangian yang berharga), Kerenphapukh (kendi yang indah). Sesudah bertahun-tahun Ayub meninggal, dengan dikelilingi akan-anaknya sampai tiga generasi.

Catatan Tambahan

Setelah kita membaca kitab Ayub, ada beberapa hal yang dapat kita petik.

1. Masalah penderitaan orang yang tidak bersalah.
Ini jelas tema yang berkali-kali muncul kembali;ini merupakan inti dari perdebatan antaraAyub dengan sahabat-sahabatnya. Penderitaan, menurut mereka adalah hukuman dosa (lih. 4: 7-9, 8: 20). Ketika Ayub menolak ini dalam kasusnya, mereka menjawab: “Jangan begitu! Semua manusia adalah pendosa” (14: 1-4). Para sahabatnya menyangkal adanya kemungkinan seorang yang tidak bersalah menderita.Situasinya lebih berbelit dan muncullah jawaban lain. Penderitaan adalah misterius, dan siapakah kita sehingga dapat menyelamijalan Tuhan (11: 7-10; 15: 8-9) Penderitaan adalah cara Allah mendidik kita dan membuat kita lebih baik (5: 17-18). Penderitaan diperbolehkan Allah untuk mencobai keutamaan oarng benar (bab 1-2). Semua jawaban ini memungkinan kita tetap memegang ketidaksalahan manusia dan keadilan Allah. Baik Ayub maupun sahabatnya berpegang teguh pada keadilan Allah. Bagi para sahabatnya, ini adalah dasar dari pandangan mereka yang tradisional; bagi Ayub, inilah dasar untuk seruannya supaya didengar dan keyakinannya akan sikapnya.

2. Misteri penderitaan dan hubungan dengan Allah
Pendekatan pertama memandang penderitaan sebagai problem yang harus dipecahkan dalam tingkat intelektual. Aspek kedua ini membawa kita lebih dalam. Kita dapat melihat semua bagian, semua dimensinya. Pertanyaannya: bagaimana kita dapat mempersatukan? Suatu misteri, di pihak lain adalah suatu situasi, di mana saya sebagai seorang manusia yang unik, sungguh terperangkap, sehingga kita tidak dapat melihat cukup jauh “di luarnya”. Kasih adalah sebuah misteri. Begitu pula kematian, juga penderitaan. Masalah dapat dipecahkan, tetapi misteri hanya dapat dihayati, dan dihayati sepenuhnya dalam hubungan dengan sesama.Bagi Ayub kepedihannya yang paling besar muncul dari kekacauan mengenai hubungannya dengan Allah.pada permulaan ia dan Allah bersahabat; kemudian Allah itu nampak menjadi musuh (13: 24). Dari prespektif ini, pembicaraan Yahwe memberi suatu jawaban, dan jawannya bukan dari apa yang dikatakan, melainkan dari kenyataan bahwa sesuatu dikatakan. Kenyataan dari jawaban Yahwe menujukkan bahwa Yahwe telah hadir dan mendengarkan sepanjang waktu dan meneguhkan hubungan itu. Jadi kedati kegelapan yang terus ia alami sehubungan dengan mengapa ia harus menderita, hal itu memungkinan Ayub hidup lewat perjuangan, karena ia tahu bahwa ia tidak sendirian. Jadi, buku ini lebih berbicara tentang misteri iman dari hubungannya kita dengan Allah, daripada problem teologi. Ini sangat berharga.

Dari prespektif ini, kita dapat mencatat adanya perubahan nyata dalam protagonis. Ayub pada bagian akhir bukanlah Ayub pada bagian permulaan. Perubahan ini digambarkan sebagai “pemanusiaan Ayub”. Ayub dari prolog mungin sangat bersemangat, tetapi jelas ia bukan manusia seperti kita. Ia tidak nyata. Dari pembicaraannya yang pertama dalam bab 3, Ayub berada dalam kedukaan manusiawi yang mendalam dan terus bertambah lewat debat, sampai pada akhir di mana ia berdiri dengan kuat dan melontarkan sumpah ketidaksalahan kepada Allah (bab 20-31). Adegan akhir yang bagus tampaknya kembali kepada suasana prolog, tetapi sesungguhnya tidak. Ayub telah berubah sama sekali.

3. Ayub berkata benar tentang diri-Ku
Pernyataan Yahwe yang kuasa dan ironis ini ( 42: 7-8), yang berlawanan dengan cara Ayub mengadakan evaluasi (42: 2-6), menunjuk pada pokok lain dari kitab ini dan perhatiannya akan penderitaan, misteri dan relasi. Tepatnya pokok utama mengenai hal ini adalah: Bagaimana Ayub akan mengatakan yang sebaliknya? Apakah ia akan mengutuk Allah, seperti yang diramal oleh Iblis (1: 11; 2: 5). Dua kali ia dinyatakan tidak salah (1: 22;2: 10): dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya (2:10). Inti dari kitab Ayub adalah pembicaraan, yakni bahwa bicara disusul bicara disusul bicara. Ayub menyalahkan sahabat-sahabatnya yang berbicara salah tentang Tuhan (13: 7-9), semantara ia sendiri menolak untuk diam (7: 11; 10: 1; 13: 13), sampai ia selesai (31: 35). Untuk menyeibangkan dua tantangan dari Iblis dalam prolog dan Yahwe dalam epilog, dinyatakan dua kali bahwa: Ayub hamba-Ku, telah bicara benar mengenai Aku” (42: 70-8).Bagaimana kata “benar” dapat dipahami? Secara tata bahasa, kata ini dapat berarti “secara baik” atau “hal-hal uanh benar”. Keduanya agaknya memang terdapat dalam teks. Pertama-tama Ayub telah mengatakan secarabaik. Ia mengeluh. Semuanya dapat diringkas demikian: dalam semua yang ia katakan, Ayub dengan tegas mengemukakan intergritas pengalamannya. Apa yang maih tinggal yang ia sebut miliknya? Jika ia meninggalkan itu, ia akan kehilangan segalanya. Meskipun di pihak lain ada tekanan-tekanan, ia dengan jujur mengungkapkan sakitnya, kebingungannya, dan keruguannya, tetapi ia tidak pernah meragukan atau mengkhianati integritasnya sendiri. Allah tidak dilayani dengan kebohongan, tidak peduli maksudnya baik (13: 7-9). Ayub mengetahui secara instingtif bahwa jika suatu rekasi yang sehat dengan Allah akan dipertahankan, haruslah didasari pada kebenaran. Dan, Ayub mengucapkan kebenarannya dengan keras dan jelas, sehingga dapat didengar semua orang. Ia tidak puas dengan penjelasan teologis sehabat-sahabatnya yang diturunkan dari “generasi terdahulu” (8: 8). Betapapun benar yang mereka katakan, mereka melanggar integritas Ayub, yang tidak akan atau tidak dapat mebiarkan mereka pergi tanpa ditanggapi sampai generasi berikutnya. Seruannya bergema sampai gererasi sekarang, lebih dari dua setengah ribu tahun kemudian.

Kedua, Ayub telah mengatakan hal yang benar. Tak terbeli oleh “ucapan Allah” yang murah dan mempertahankan integristasnya, Ayub mampu melihat dan mengaku adanya misteri. “Aku juga mengetahui teori sebaik kamu, aku juga mengetahui pengalamku. Apa yang tidak kuketahui ialah apa yang sedang terjadi atau bagaimana aku menjelaskannya!”. Allah dan relasi kita dengan Allah adalah terlalu dalam dan terlalu kuat untuk dikurangi atau diisikan ke dalam jalan pikiran kita. Perkataan Yahwe (bab 38-41), menyatakan hal itu. Telebih-lebih, pada pusat misteri, Ayub menyediakan ruang bagi kebebasan Allah. Pembicaraan para sahabatnya terlalu dangkal, tidak hanya bagi Ayub tetapi juga bagi Allah. Kita lihat bagaimana Ayub dan Allah pada dasarnya sama dan menderita kekacauan yang sama. Sangatlah berbahaya apabila orang beriman mendapatkan Allah mereka terlau banyak dari segi masa lalu dan dengan demikian kehilangan unsur kejutan dari Allah menurut Alkitab, yang memanggil kita ke depan, kepada pembaharuan (lih Kej 12: 1-3).

Peranyaan untuk digumuli:

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari Kitab Ayub, khususnya pada saat kita mendapatkan penderitaan? Bagaimanakah hubungan kita dengan Allah yang mahabaik itu dengan penderitaan yang kita alami pada saat ini?
Yang perlu diperhatikan adalah nama Yahwe. Memang Allah tetap Allah leluhu. Namun sekarang mendapat arti dan pemahaman yang baru; yang hadir dan berkarya. Allah bukan lagi sekedar Allah di masa lampau, melainkan Allah yang mengerjakan masa kini, dan membangun masa depan. Bagaimana pengertian ini jika kita kaitkan dengan penderitaan di masa kini seperti yang dialami oleh bangsa Indonesia dengan bencana alamnya?
                                                                                                                                         
                                                                            

Sumber: https://gkjw.or.id

| A R S I P |

 

 

Copyright © 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.