HOME

HOME

ABOUT US

KESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pemahaman Alkitab

Pemahaman Alkitab Desember 2018
                                                                                                                           
                                                                                                                Desember II
Bacaan: Ibrani 10: 1-18
Tema Liturgis: Meneguhkan Panggilan Untuk Menjadi Berkat
Tujuan PA: Semakin memampukan Jemaat menjadi berkat dalam kepatuhannya kepada Tuhan

Pengarang mengakhiri argumen dari bagian utama khotbahnya dengan perbandingan singkat antara kurban Kristus dengan upacara Israel, yang diikuti oleh anjuran berikut. Ayat 1-18, berisikan sejumlah pengulangan karena bagian ini adalah sebuah ringkasan, tetapi juga berisikan beberapa gagasan baru. Lukisannya menggambarkan imam-imam Lewi dan kurban mereka adalah menyedihkan (mis. ay. 11),tetapi kita hendaknya ingat bahwa Ibrani bukan membuat pernyataan anti-Yahudi. Keunggulan kurban Kristus dan konsekwensinya sendiri, tidak didirikan atas jasa orang-orang Yahudi sezaman pengarang. Ia tidak berbicara mengenai praktek-praktek Yahudi pada zamannya, tetapi hanya upacara kemah Israel seperti digambarkan dalam Pentateukh. Adalah firman Allah di dalam Kitab Suci yang menyebutkan batasan dari upacara ini dan pada waktu yang sama menunjuk ke depan makna dari firman yang diucapkan dalam Putra-Nya.

Bagian ini mulai dengan beberapa kontras antara kurban-kurban yang dibicarakan. Pertama, ada kekurangsempurnaan yang terkait dengan hukum Musa, yang digambarkan sebagai bayangan dari kenyataan ilahi (ay. 1). Latar belakangnya adalah pemikiran filosofis populer sat itu, yang membedakan antara kenyataan yang rohani, gambaran kelihatan dari kenyataan itu, dan bayangan yang ditimbulkan oleh gambaran itu. Karena hukum menunjuk pada masa depan, maka itu berarti hanyalah bayang-bayang. Ayat 2-3, membuat jelas argumen yang telah kita lihat bahwa kurban yang diulang-ulang untuk dosa adalah tidak efektif justru karena harus diulangi. Tetapi, ay. 4, memperkenalkan sebuah gagasan baru, bahwa tidak mungkin bagi kurban binatang untuk menghapus dosa. Buktinya terletak pada kutipan Mazmur 40: 8-9, di mana, seperti kerap terjadi, pembicaraannya adalah Kristus. Di situ Allah dikatakan menolak kurban binatang. Pengarang kemudian menafsirkan Mazmur itu sebagai penolakan terhadap hukum, perjanjian lama, oleh kurban tubuh Kristus, yang adalah wasiat Allah bagi Putra-Nya (ay. 9-10). Ayat 11-14, mengulangi kontras antara kurban yang berganda-ganda dan kurban Kristus yang sekali untuk semua, dengan menekankan akibat abadi kurban Kristus. Ayat 12-13, menunjuk lagi pada Mazmur 110: 1, yang telah digunakan beberapa kali sejak 1: 3 dan seterusnya.

Beberapa komentar akhir atas bagian mengenai perjanjian baru dari Yeremia 31, mengakhiri argumentasi tersebut (ay. 15-18). Kali ini Roh Kudus dinyatakan menjadi pembicara dari firman Allah, tetapi kutipannya sendiri sebenarnya merupakan pengungkapan bebas dari pengarang atas teks itu. Kesimpulannya adalah karena Perjanjian Baru yang diperantarai oleh Kristus telah memperoleh pengampunan dosa atas kuasa firman Allah sendiri, semua kurban yang lain untuk dosa telah diakhiri.

Pertanyaan untuk digumuli

1.Dalam masa adven ini, apa yang perlu diperbaharui oleh kita? Ibadah Kristen bukan hanya hadir dalam ibadah Minggu atau hanya hadir dalam Perjamuan Kudus saja, melainkan hidup secara Kristen. Sudahkah hidup kita mencerminkan ibadah yang benar, yang menurut kehedak Kristus?
2.Apa arti ikut Perjamuan Kudus bagi saudara-saudara?

                                                                                                                                         
                                                                            

Sumber: https://gkjw.or.id

| A R S I P |

 

 

Copyright 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.