HOME

HOME

ABOUT US

KESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pemahaman Alkitab

PEMAHAMAN ALKITAB                        PEBRUARI 2019 (II)
                                         
                        

Bacaan :
Roma 8:1-11.
Kalender Liturgis :
Minggu biasa
Tema Liturgis :
Melakukan Kehendak Allah Sambil Meyakini Kasih Pemeliharaan-Nya.
Tema PA :
Hidup oleh Roh adalah hidup toleran!

Tujuan :
1.Agar warga jemaat mengetahui tentang kehendak Tuhan atas kehidupan riil kita.

2.Agar warga jemaat memahami bahwa kita (umat-Nya) wajib menaati kehendak-Nya di kehidupan riil (nyata).

3.Agar warga jemaat melatih diri untuk meyakini serta menghayati kasih pemeliharaan-Nya sehingga dapat menaati kehendak Tuhan dan ketaatan tersebut berdampak positif bagi lingkungannya, dengan hidup toleran.

Keterangan Teks:
Ayat 1: ‘Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus’. Apa artinya bagi kita, jika kita sedang berada di lajur kematian? Kenyataan bahwa semua manusia ada di lajur kematian, sebab memang pantas dihukum karena merusak hukum suci Allah secara berulang-ulang. Tanpa Tuhan Yesus kita tak memiliki harapan apa pun. Syukur kepada Allah, sebab Ia telah menyatakan bahwa kita tak bersalah dan menawarkan kita pembebasan dari dosa dan kekuatan untuk melakukan kehendak-Nya.

Ayat 2: Roh yang memberi hidup ini adalah Roh Kudus. Roh hadir ketika Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya (Kej.1:2) dan Roh adalah kekuatan dibalik kelahiran kembali setiap orang Kristen. Roh memberi kita kekuatan yang kita butuhkan untuk hidup secara Kristen.

Ayat 3: Tuhan Yesus memberikan diri-Nya sendiri sebagai korban (persembahan) bagi dosa-dosa kita. Di zaman Perjanjian Lama, korban binatang secara terus-menerus dipersembahkan di bait. Korban-korban tersebut menunjukkan kesungguhan hati bangsa Israel akan dosa: Darah-Nya ditumpahkan sebagai pengampunan dosa (Imamat 17:11). Tetapi darah binatang tidak dapat sungguh-sungguh menghapus dosa (Ibrani 10:4). Korban-korban yang dilakukan manusia hanya dapat mengacu pada pengorbanan Tuhan Yesus, yang membayar lunas bagi semua dosa.

Ayat 5-6: Paulus membagi umat ke dalam dua kategori, yakni mereka yang membiarkan dirinya dikuasai oleh dosa turunan mereka (daging), dan mereka yang mengikuti setelah Roh Kudus. Kita semua akan ada di kategori satu jika Tuhan Yesus tidak menawarkan kita sebuah jalan keluar. Sekali kita berkata ya kepada Tuhan Yesus, kita akan ingin terus mengikuti-Nya, sebab jalan-Nya memberi kehidupan dan damai. Setiap hari kita harus sadar memilih memusatkan hidup kita pada Allah. Gunakan Alkitab untuk membuka tabir bimbingan-Nya, dan kemudian mematuhinya. Di setiap situasi membingungkan, Tanya pada diri sendiri: ‘Apa yang Tuhan Yesus kehendaki untuk saya lakukan?’ Jika Roh Kudus menunjukkan apa yang benar, lakukan dengan segera. Untuk dosa turunan kita versus hidup baru kita dalam Kristus, lihat Roma 6:6-8; Ef.4:22-24; Kol.3:3-15.

Ayat 9: Ragukah anda tentang realitas anda sebagai seorang Kristen? Seorang Kristen adalah seseorang yang mempunyai Roh Allah tinggal dalam dirinya. Jika anda percaya Kristus bagi keselamatan anda dan mengakui-Nya sebagai Tuhan, kemudian Roh Kudus masuk ke dalam hidup anda, maka anda adalah seorang Kristen. Anda yakin bahwa Roh Kudus datang, sebab anda menantikannya dengan tekun, dan Roh datang sebab Tuhan Yesus telah menjanjikannya. Jika Roh Kudus bekerja dalam diri anda, maka:
 
  *anda akan percaya bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Anak Allah dan hidup kekal hadir melalui-Nya (I Yoh.5:5);
*anda akan mulai melakukan seperti yang Kristus kehendaki (Roma 8:5; Gal.5:22-23);
*anda akan menemukan pertolongan dalam problem anda setiap hari dan dalam doa anda (Roma 8:26-27);
*anda akan diberdayakan untuk melayani Allah dan melakukan kehendak-Nya (Kisah Para Rasul 1:8; Roma 12:6 dst);
*dan anda akan menjadi bagian rencana Allah untuk membangun gereja-Nya (Ef.4:12-13).

Ayat 11: Roh Kudus adalah perjanjian atau jaminan Allah tentang hidup kekal bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Roh ada dalam diri kita sekarang oleh iman, dan oleh iman kita tentu hidup dengan Kristus selamanya. Lihat Roma 8:23; I Kor.6:14; II Kor.4:14; I Tes.4:14.

Realitas kehidupan kini dan penerapan:
Sejak hari Minggu tanggal 23 September 2018, telah dimulai kampanye pemilihan legislatif (anggota DPR/DPRD) serta pemilihan presiden dan wakilnya, sampai nanti bulan April 2019. Masa kampanye, apalagi dalam kurun waktu yang sangat panjang itu, bukannya tidak mungkin rentan terjadi konflik di antara warga Negara Indonesia, yang berbeda dukungan dan pilihannya. Menurut pemerintah RI dan berbagai pihak, korupsi dan intoleransi menghambat demokrasi di Indonesia. Isu SARA (suku, agama, ras, antar golongan) sangat sensitif dijadikan alat adu domba. Tantangan yang harus kita hadapi adalah ada sebagian orang/pihak yang kurang atau tidak bisa menerima perbedaan, keanekaragaman, dan kebinekaan itu sebagai berkat.

Ada dua (2) sikap atas isu SARA tersebut, yaitu ‘toleran’ dan ‘intoleran’. ‘Toleran’ adalah bersifat atau bersikap menenggang: menghargai, membiarkan, membolehkan pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dsb yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. ‘Intoleran’ adalah kebalikan dari toleran!

Menurut Majalah Intisari Bulan Agustus 2018, ada sepuluh kota di Indonesia paling intoleran, yaitu Jakarta (kota paling tidak toleran di tahun 2017), Banda Aceh, Bogor, Cilegon, Depok, Yogyakarta, Banjarmasin, Makassar, Padang, dan Mataram. Sepuluh kota dengan tingkat toleransi tertinggi adalah Manado, Pematang Siantar, Salatiga, Singkawang, Tual, Binjai, Kotamobagu, Palu, Tebing Tinggi, dan Surakarta.

Untuk dapat bersikap toleran, masyarakat Jawa memiliki kearifan lokalnya, yang berbunyi: ‘Desa mawa cara, Negara mawa tata’, artinya: desa mawa cara (desa mempunyai adat sendiri), Negara mawa tata (Negara memiliki tatanan, aturan, atau hukum tertentu). Peribahasa ini memuat inti pandangan masyarakat Jawa yang menghargai adanya pluralitas dengan segala perbedaan adat kebiasaannya. Untuk itu, bagi para pendatang harus pandai-pandai memahami, menghormati, dan menyesuaikan diri dengan adat istiadat setempat. Jangan melecehkan apalagi mengubahnya sebab akan menimbulkan kesalahpahaman yang berujung pada konflik yang tidak diinginkan. Saya menangkap kearifan tsb, bahwa masyarakat Jawa menerima pluralisme (keadaan masyarakat yang majemuk: perbedaan, kebinekaan, banyak ragam macam) sebagai berkat! Sebagai karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia Jawa.

Metode:
Untuk memenuhi harapan dan tujuan di atas (a, b, dan c), maka perlu sebuah percakapan dinamis dalam PA ini, dengan menjawab dan menjelaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

1.Sebutkan ‘kehendak Tuhan’ yang anda yakini/hayati/alami dalam kurun waktu sebulan terakhir ini. Bagaimana respons atau tanggapan anda menghadapi kehendak Tuhan tersebut?

2.Hal apa saja yang anda butuhkan agar anda dapat merasa wajib menaati kehendak-Nya di kehidupan riil (nyata) anda?

3.Baca sekali lagi bagian ‘Realitas kehidupan kini dan penerapan’ di atas. Langkah apa yang ingin anda lakukan untuk mewujudkan ‘melatih diri untuk meyakini serta menghayati kasih pemeliharaan-Nya sehingga dapat menaati kehendak Tuhan dan ketaatan tersebut berdampak positif bagi lingkungannya, dengan hidup toleran?
                                                                
                                                                            

Sumber: https://gkjw.or.id

| A R S I P |

 

 

Copyright © 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.