HOME

HOME

ABOUT US

KESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pemahaman Alkitab

                                                                                          JANUARI I


Bacaan : Yeremia 19:1-15
Tema Liturgis : Alam menunjukkan Tuhan dan kuasa keselamatanNya
Tujuan PA : Membangun moral, mental dan spiritual umat.



Pengantar


Di pasal 18 diceritakan oleh Nabi Yeremia tentang periuk yang sedang diproses pembuatannya. Jika periuk itu mengarah pada bentuk yang tidak sesuai dengan yang dikehendaki tukangnya, maka dia akan dijadikan bentuk yang lain. Proses itu menggambarkan pola hidup moral bangsa Yehuda. Jika mereka menyimpang dari kehendak Tuhan, mereka akan dibimbingnya. Jika kemudian mereka bertobat, mereka akan diampuni dan diselamatkan.

Tetapi pada pasal 19:1-15 ini diceritakan tentang buli-buli yang dipecahkan sampai hancur. Buli-buli (guci) adalah benda alam yang dibuat oleh tukang periuk untuk maksud yang penting, yaitu untuk tempat air bersih. Nabi Yeremia diperintahkan oleh Tuhan untuk membeli buli-buli yang akan melambangkan pandangan dan pekerjaan Tuhan. Yeremia melakukan perintah Tuhan itu, dan atas perintah Tuhan, dia bersama para tua-tua dan imam bangsa itu pergi ke Lembah Ben-Hinom. Lembah Ben-Hinom dulunya adalah tempat mempersembahkan anak-anak sebagai korban bakaran untuk dewa Molokh. Tetapi kemudian dibersihkan oleh raja Yosia yang melakukan reformasi. Setelah lengsernya Yosia, praktek pengorbanan itu dilakukan lagi oleh bangsa Yehuda bagi dewa Baal, sehingga lembah itu menjadi tempat pembantaian. Mereka menyembah berhala sampai rela mengorbankan anak-anak mereka menjadi korban bakaran, tentu dengan cara membunuh mereka. Perbuatan bangsa Yehuda itu adalah perbuatan yang kejam dan melawan kehendak Tuhan. Mereka tidak mau diperingatkan lagi (ps. 18). Bagi Tuhan, moral dan mental bangsa Yehuda telah rusak, hancur.

Kemudian Yeremia diperintahkan untuk memecahkan buli-buli yang dibawanya itu, yang merupakan nubuat tentang apa yang akan dialami oleh bangsa Yehuda. Hancurnya guci (benda alam) itu menggambarkan hancurnya moral dan mental orang-orang dan para raja Yehuda, serta keadaan bangsa itu yang akan hancur porak poranda binasa oleh serangan musuh.

Rusaknya alam Indonesia -sehingga timbul berbagai bencana- jelas menggambarkan rusaknya moral dan mental rakyat bangsa Indonesia. Sangat banyak orang yang egois, mementingkan diri sendiri, tidak peduli dengan kepentingan orang banyak dan bahkan juga tidak peduli pada keturunannya kelak. Banyak orang mencari kekayaan sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya dengan mengeruk kekayaan alam, dengan merusak alam, dengan memasukkan berbagai jenis racun (bahan kimia) ke dalam komoditas pangan (buah-buahan, tanaman pangan, makanan instant atau makanan siap santap). Mereka tidak peduli pada kesengsaran dan bahkan pada kematian orang banyak. Sehingga, benarlah apa yang dikumandangkan oleh Presiden Joko Widodo mengenai pentingnya Revolusi Mental untuk seluruh bangsa ini. Katanya bangsa beriman kepada Tuhan, tetapi nyatanya banyak orang yang menyembah berhala kekayaan, kehancuran dan kematian.

Pertanyaan untuk dipergumulkan bersama:

Adakah bagian dari alam di sekitar kita, di lingkungan tempat tinggal kita yang rusak atau berantakan, tidak teratur? Bagaimana kalau itu dikatakan menjadi gambaran moral dan mental orang-orang yang mendiaminya? Bagaimana perasaan kita? Apa yang harus kita perbuat?
Apa yang harus kita perbuat dalam rangka membangun moral dan mental bangsa ini? Bagaimana kita memulainya dari keluarga kita, lalu gereja kita?


Pdt. Suko Tiyarno Ch.  
                                                                    
                                                                                                    

                                                                                       
Sumber: https://gkjw.or.id

| A R S I P |

 

 

Copyright 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.