HOME

HOME

ABOUT US

KESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pemahaman Alkitab
                                                                                                                               Juli I

Bacaan : Yeremia 7 : 1 – 15
Tema Liturgis : Tetap Setia dengan Panggilan-Nya
Tema PA : Keluarga belajar

Keterangan Teks :
Yeremia adalah nabi yang hidup pada jaman yang bergolak, dibesarkan dalam waktu yang baik namun meninggal pada waktu sangat buruk sebagai seorang buangan di Mesir. Yeremia termasuk keluarga imam yang dipanggil dalam tugas kenabian ketika masih muda di tengah kondisi bangsa yang kacau. Yeremia melihat Bait Suci dihancurkan, Yerusalem ditinggalkan dan penduduknya dibuang ke Babel. Dia sendiri pada akhirnya juga dibuang ke Mesir sampai dengan meninggal karena dilempari batu. Di tengah hiruk pikuk situasi bangsanya, Yeremia memberikan pesan dengan nada pesimis dan optimis. Dia tenggelam dalam rasa pesimis ketika melihat keadaan yang menyedihkan, namun penuh rasa optimis ketika memandang Allah yang memberikan pengharapan, perjanjian, kekuatan dan kehendak kuat untuk membuat bangsa Israel menjadi bangsa yang kudus. Karenanya, di satu sisi Yeremia menegur kesalahan dan dosa melawan perjanjian yang dilakukan bangsanya, namun di sisi lain dia membangkitkan kesadaran bahwa kejahatan yang mereka lakukan adalah kejahatan melawan Allah. Yeremia mengajak bangsanya melihat bahwa sejatinya Allah mencintai mereka, pun ketika Allah menghukum mereka.

Yeremia 7 : 1-5 merupakan bagian kotbah Yeremia di Bait Suci yang mengajak bangsanya mendengarkan firman Tuhan. Yeremia memarahi orang-orang Yehuda atas kepercayaan mereka yang dipengaruhi oleh perkataan dusta (ayat 4) sekaligus mengajak mereka memperbaiki tingkah laku dan memperbarui hidup (ayat 3, 5-7). Yeremia mengkritik cara hidup keseharian dan peribadatan yang tidak selaras. Mereka meninggalkan kesetiaan terhadap perjanjian dan melawan hukum Tuhan dengan melakukan kejahatan sosial. Yeremia menyebut mereka menjadikan Bait Suci sebagai “sarang penyamun” karena merasa tetap bisa lepas dari hukuman karena ritual yang mereka lakukan. Pada akhirnya, Yeremia mengajak bangsanya setia pada panggilan-Nya dengan mengingatkan mereka pada tempat ibadat di Silo yang pernah hancur dan hal itu dapat terjadi pada Bait Suci (ayat 11-25).

Realitas kehidupan terkinidan penerapan :
Februali lalu, Pak guru Budi di Madura, tewas karena serangan muridnya. Bu kepala sekolah Astri di Sulawesi Utara terluka karena diserang orang tua muridnya. Maudi Ayunda, artis yang sejak kecil sudah melakukan aksi sosial dengan membantu yang membutuhkan (bisa diganti sosok inspiratif lain). Dari mana orang-orang ini berangkat dan pulang? Keluarga. Jadi, keluarga menjadi komunitas pertama dan utama dalam pertumbuhan diri menjadi pribadi yang tangguh, baik ketika di rumah maupun keluar rumah. Di dalam keluargalah, karakter baik ditumbuhkan dengan aturan yang ditegakkan dengan disiplin, tegas (bukan keras), penuh kelembutan dan cinta kasih. Kesetiaan menjaga nilai dan melatih sikap-sikap yang luhur bisa dikawal ketika orang dewasa dalam keluarga cukup tangguh dan percaya diri sebagai “nabi” dan utusan Tuhan sebagaimana Yeremia menjaga bangsa Yehuda dengan teguran dan harapan.
Realitanya, menjadi keluarga yang tangguh adalah proses belajar yang tak pernah berhenti. Sekolah bagi pasangan yang membangun hidup berkeluarga adalah pengalaman dan pengetahuan dalam sikap yang terbuka untuk terus belajar karena tantangan keluarga terus berubah. Era digital telah mengubah banyak hal dalam keluarga seperti komunikasi dan relasi. Rembugan membahas dan mencari tahu sesuatu yang dulu dibangun dalam suasana gayeng mulai luntur digantikan dengan google yang menjadi jawaban atas persoalan. Kegembiraan yang sebelumnya ditemukan dengan bermain bersama teman sampai lupa waktu, sekarang mulai hilang karena anak-anak dan orang dewasa telah menemukan hiburan yang membuatnya lupa waktu melalui gawai / gadget canggihnya. Di balik dampak positifnya, media digital telah memenangkan seluruh perhatian anak dan orang dewasa yang kita tidak memiliki ketrampilan yang cukup untuk menghadapinya, terbentang dampak negatif yang besar. Karena itu, era yang berubah membuat pola relasi keluarga pun berganti sehingga kesediaan keluarga untuk terus belajar senantiasa dibutuhkan.
Di tengah realita hidup itu, panggilan bagi setiap pribadi dalam keluarga masih sama : menjadi setia. Kesetiaan bukan instan, namun butuh belajar. Karenanya, setiap keluarga dipanggil untuk belajar setia menjalani hidup. Keluarga harus belajar menghadapi perubahan dan tantangan yang melemahkan hidup berkeluarga. Belajar dari Yeremia, mari menjadi keluarga yang saling mendampingi dengan cinta dan harapan. Ketika berhadapan dengan perilaku yang tidak sesuai, bukan hanya memberikan teguran namun juga pengharapan pada Allah yang memberikan kekuatan pada kita sebagai keluarga yang setia.

Pertanyaan Reflektif :
Rumahlah tempat belajar karakter yang baik seperti sopan santun, penghargaan, maaf dan ketulusan, sehingga ketika keluar rumah selalu siap menebar kebaikan dan kebenaran dengan setia. Menurut saudara, apa tantangan dalam mewujudkan rumah sebagai tempat keluarga belajar?
Hanya sedikit orang muda yang terlibat atas keprihatinan bangsanya, seperti Yeremia. Menurut saudara, teladan apa yang bisa kita lakukan selaku keluarga untuk menyiapkan anak-anak yang peduli?

Penutup :
Anak belajar dari kehidupannya, karenanya tugas utama keluarga adalah menjadi tempat belajar bagi semua anggota, tidak hanya anak, tapi orang tua juga. Lihatlah, ketika ada bayi baru lahir, mereka yang lahir lebih dulu akan belajar banyak hal. Bapak dan ibu baru belajar bagaimana menggendong, kakak akan belajar bicara dengan pelan agar adik tidak terganggu, kakek dan nenek belajar tidak berbagi perhatian yang semakin banyak. Selain belajar pengasuhan secara fisik ini, keluarga juga terus belajar mengelola psikisnya, agar rumah menjadi tempat yang sehat untuk belajar. Mari menjadi terus menguatkan kehidupan kita sebagai keluarga belajar.
                                                                            

Sumber: https://gkjw.or.id

| A R S I P |

 

 

Copyright © 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.