HOME

HOME

ABOUT US

KESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pemahaman Alkitab

                                                                                          NOPEMBER II

Bacaan : Yoel 3:9-12
Tema : ‘Budaya Luhur Sarana Melakukan Panggilan Tuhan’


Keterangan teks bacaan:

Secara umum, kitab nabi Yoel ditulis pada kurang-lebih abad kelima dan keempat sebelum Masehi. Saat itu, kerajaan Persia sedang berjaya.

Nabi Yoel mendapat pesan dari Tuhan tentang tiga hal. Pertama, pesan tentang bencana. Bencana akan melanda umat Tuhan. Pasal 1:1 sampai dengan pasal 2:17 berkisah tentang hal-hal ini.

Kedua, janji Tuhan, bahwa umat-Nya hendak dipulihkan-Nya. Uraiannya terdapat pada pasal 2:18-27.

Ketiga, pemberitahuan tentang Hari Tuhan. Itu dikisahkan di dalam Yoel 2:28 – 3:21.

Dengan kata lain, perikop yang kita baca hari ini merupakan bagian dari pemberitahuan tentang Hari Tuhan. Intinya: Hari Tuhan adalah hari malapetaka bagi pelawan Tuhan Allah. Umat Tuhan diminta tetap setia. Tuhan Allah menjadi pembela bagi umat-Nya yang telah diperlakukan sewenang-wenang oleh lawannya.

Khusus tentang bacaan kita hari ini (3:9-12), keterangannya demikian:

Pertama, sang nabi harus mengumumkan kepada pihak lawan. Inti pengumuman adalah supaya mereka bersiap menjadi pasukan perang. Harap dipastikan, bahwa mereka siap maju perang secara ksatria. Dengan cara demikian, maka penentuan akhir akan benar-benar dapat ditentukan secara definitif, tanpa kecurangan. Dikondisikan sejak awal, supaya mereka yang berpijak pada kebenaran dan kekudusan Allah, pada akhirnya akan tampak cemerlang. Sedangkan mereka yang mencemoohkan kekudusan Allah, mereka akan terkalahkan secara fair–play (secara terbuka-jujur gaya ksatria).

Kedua, pertempuran akan berlangsung. Satu pihak adalah pasukan kebenaran, dari Allah. Pihak lain adalah pasukan kebatilan, dari ambisi manusia yang hendak berkuasa dan hendak menguasai bangsa lain. Yang pertama akan menang, sebab dituntun oleh Allah. Sedangkan pihak yang batil, yang jahil, yang jahat, yang sewenang-wenang, adalah pihak yang bertentangan dengan Allah.

Ketiga, umat Tuhan Allah harus maju berperang. Ini sebuah tugas dan panggilan yang menantang. Lawan dari umat Tuhan bersenjata lengkap. Senjata lawan itu serba mematikan (lihat ayat 10). Dan, senjata-senjata mematikan itu dipergunakan oleh para jagoan, oleh para pahlawan. Mereka adalah orang-orang yang terlatih mempergunakan senjata. Mereka juga telah terlatih untuk mencelakai musuh dengan cara apa saja.

Keempat, dipertegas pihak-pihak yang benar dan pihak-pihak yang batil. Itulah konteks pengadilan Tuhan Allah. Yang jahat menjadi benar-benar jahat. Yang berada dan setia pada kebenaran akan benar-benar teruji kebenarannya. Ujian kebenaran itu berupa pertempuran.

Pertanyaan

Ayat 9: nabi Yoel diperintahkan oleh Tuhan agar melakukan apa terhadap pihak lawan?
Ayat 10-11: apakah pesan utama Tuhan kepada bangsa-bangsa, yang disampaikan lewat nabi Yoel?
Ayat 12a: Nabi Yoel memohon apakah kepada Tuhan?
Ayat 12b: Tuhan berfirman apakah kepada Yoel?

Realita kehidupan Kini:

Kita pernah mengenal adagium, rumusan, begini: becik ketitik, ala ketara (yang baik-benar akan tampak, yang buruk-jahat akan kentara). Benarkah, bahwa kita pernah mendengar atau mengenal adagium tersebut? Sejak kapankah kita mengenalnya?
Dalam perbedaan yang tegas dan jelas itu, secara ideal, kita memilih berada pada pihak ‘yang becik’ ataukah berada pada pihak ‘yang ala’?
Apakah menjadi orang yang disebut ‘becik’ harus berjuang keras? Adakah contoh perjuangan keras Anda untuk bertahan dan tetap berdiri sebagai pihak yang ‘becik’?
Kata ‘berjuang’ itu menandakan adanya sebuah pertempuran atau peperangan. Antara yang terang dan yang gelap, saling berhadapan, bertempur. Setujukah Anda tentang hal ini?

Penerapan:

“Ana rembug dirembug” (kalau ada persoalan, maka percakapkanlah, selesaikanlah). Janganlah diam saja. Janganlah mendiamkan sebuah perkara. Sebab, mendiamkan perkara itu hanyalah penundaan saja. Suatu ketika meledak. Ledakannya mungkin lebih dahsyat, lebih menghancur-luluhkan kehidupan. Setujukah Anda, bahwa memang ada wewarah (nasihat) seperti itu di dalam kehidupan kita?
Dalam kehidupan bergereja, kegiatan pastoral atau penggembalaan adalah salah satu contoh penerapan wewarah yang bijak itu. Kalau ada ganjelan di hati, sebaiknya dibicarakan secara baik-baik. Janganlah berniat untuk mempermalukan saudaranya. Melainkan justru menolong saudaranya. Mencarikan jalan keluar yang terbaik. Mengurai persoalan dengan sabar penuh kasih. Apakah Anda punya pengalaman menarik dalam hal ini?

Pdt. Suwignyo.                                         
                                                                                                     

                                                                                       
Sumber: https://gkjw.or.id

| A R S I P |

 

 

Copyright © 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.