HOME

HOME

ABOUT US

KESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pemahaman Alkitab

Pemahaman Alkitab (PA)
                                                                                                        Oktober 2019 (I)
Bulan Ekumene

Bacaan :
Kejadian 32 : 22 – 32
Tema Liturgis :
Merawat Hubungan Antar Umat Beriman Untuk Mewujudkan Kesejahteraan Bersama
Tema PA :
Berdamai dengan Allah dan Diri sebagai Modal Berelasi dengan Yang Lain.

PENDAHULUAN (Kejadian 32 : 1 – 22)
Kejadian 32:1-22 menceritakan tentang Yakub yang belum lama ini melarikan diri dari Laban, mertuanya yang dia tipu, dan saat ini menuju tanah Kanaan yang mana dia harus berjumpa kembali dengan Esau, kakaknya yang juga dia tipu. Tentunya untuk berjumpa dengan Esau, Yakub harus melakukan proses pendamaian diri terlebih dahulu dengan dirinya. Pada akhir pasal 31, dia berhasil berdamai dengan dirinya yang berdampak berdamai dengan Laban.

Kejadian 32:1-2 merupakan awal perjalanan Yakub bertemu dengan Esau. Dalam perjalanan tersebut dia bertemu dengan malaikat-malaikat (Ibr. Malakim) Allah, yang diakui oleh Yakub sebagai bala tentara Allah (Ibr. Mahanaim – dari kata makheneh). Hal ini membuat Yakub mantab untuk semakin berjumpa dengan Esau – terlihat dari inisiatif Yakub yang mengutus utusan (Ibr. malakim) kepada Esau. Setelah mengirimkan utusan tersebut, Yakub terkejut karena Esau membawa 400 orang. Menyikapi hal tersebut, Yakub membentuk dua pasukan (makheneh) – Yakub berpikir jika salah satu hancur masih ada yang luput[1].

Selanjutnya nampaknya ada perubahan pola pikir yang yang tumbuh dari diri Yakub (Kej. 32 : 9 – 12) setelah dia berdoa dan mengingat janji Allah kepadanya, dia memikirkan strategi bukan lagi untuk berperang, namun lebih kepada sifat nglenggono dengan memberikan persembahan kepada Esau sebagai bentuk pengakuan dosanya (Kej.32-21). Hal menarik ada di ayat 20, ketika Yakub memberikan persembahan itu sebagai bentuk sarana mendamaikan hati Esau[2].

PENJELASAN TEKS :
Ayat 22-24a Langkah yang diambil Yakub untuk melakukan perenungan batin secara pribadi – Dia menyeberangkan istri, budak, anak, dan segala miliknya merupakan langkah awal yang dilakukan oleh Yakub untuk mengasingkan diri. Jika kita berkenan untuk melihat rentetan cerita beberapa tokoh Alkitab, mulai dari Abrahan hingga Yesus, mereka selalu mengasingkan diri untuk melakukan perjumpaan relasi bersama dengan Allah dalam pergumulan-pergumulan mereka. Seperti halnya Yakub yang pada saat itu mengalami pergumulan untuk berelasi kembali dengan Esau, akan tetapi dia mengalami ketakutan dan kebimbangan sehingga ia memutuskan untuk bersandar kepada Allah.

Ayat 24b-25, Dalam masa perjuangannya untuk berdamai dengan dirinya, Yakub bergulat dengan seorang laki-laki hingga fajar menyingsing. Saya menduga yang bergulat dengan Yakub adalah Allah sebagai bentuk perjuanagn Yakub untuk berdamai dengan dirinya dan berdamai bersama Allah. Dalam pergulatan itu Yakub mendapatkan pukulan pada bagian sendi pangkal pahanya sampai terpelecok. Hal ini disinyalir sebagai upaya peringatan Allah kepada Yakub agar dia hidup dalam kebergantungannya kepada Allah. Tindakan Allah ‘memukul’ pangkal paha adalah upaya peringatan bagi Yakub bahwa ia telah berhasil melalui pergumulan, sebagai bagian dari proses berdamainya.

Ayat 26, Perubahan diri Yakub semakin terlihat ketika Yakub meminta berkat. Dalam teks ini dilukiskan bagaimana Yakub bertahan dalam pendiriaanya untuk memohon pengampunan dan berkat sebagai dasar akan berelasi dengan Esau. Yakub benar-benar ingin bergantung kepada Allah – meskipun saat itu dalam posisi ‘menang’ namun Yakub menyadari bahwa yang bergulat dengan dirinya adalah Allah.

Ayat 27-29,
Ketika laki-laki yang bergumul dengan Yakub itu berkenan memberikan berkat, dia terlebih dulu bertanya terkait nama – dan Yakub menjawab dengan jujur bahwa dia bernama Yakub yang artinya penipu. Kejujuran inilah yang akhirnya membuat laki-laki itu merubah nama Yakub menjadi Israel yang artinya “bergumul dengan Allah”. Hal ini ingin menegaskan bahwa Yakub telah mengalami proses perjuangan meluruhkan keangkuhan dan egonya – sekali lagi ingin menegaskan bahwa berjuang untuk berdamai dengan dirinya.

Ayat 30-32, Selanjutnya Yakub menamai tempat dia bergumul itu adalah Pniel yang artinya ‘melihat Allah’. Hal ini diungkapkan olehnya sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Allah karena ia berhadapan muka dengan Allah dan ia selamat. Ketika Yakub menjadi sadar kemudian ia kembali berjalan melewat Pniel dan tampaklah kepadanya matahari terbit, dan Yakub pincang karena pangkal pahanya. Penulis menjelaskan gambaran tentang matahari terbit setelah Yakub melewati Pniel merupakan sebuah pesan yang ingin disematkan oleh penulis bahwa setelah peristiwa perjuangan pergumulan dalam berdamai dengan diri dan Allah, telah tersedia harapan baru yang diberikan oleh Allah untuk menyongsong perjumpaan relasinya bersama dengan Esau.

PERTANYAAN PANDUAN DISKUSI :

1. Dari ulasan teks Kejadian 32 : 22 – 32, pengajaran apa yang dapat dirasakan dari sosok seorang Yakub?
2. Apa yang saudara pahami terkait, berdamai, baik dengan diri maupun dengan Allah?
. Menurut saudara, apa tantangan terberat dalam proses berdamai tersebut? Mengapa?
4. Menurut saudara, apakah ada keterkaitan antara berdamai dengan diri dengan proses perjuangan membangun relasi? Jika Ya, mengapa?

Selamat berdamai dan selamat berdiskusi menjalin relasi. (ABK).

Catatan:

[1] Saya menduga kesamaan kosa kata yang dipakai (Malakim dan makheneh), ingin menampilkan nuansa bahwa Yakub masih mencari jalannya sendiri; dia belum siap untuk mengandalkan pasukan Allah itu.

[2] Kosakata yang digunakan pada kata mendamaikan (Ibr.Kipper) dan persembahan (Ibr. Minkhah) sering digunakan untuk menunjukkan nuansa pendamaian manusia dengan Allah – tentunya nuansa dipakai untuk semakin menegaskan bahwa dia terlebih dahulu berjuang untuk berdamai dengan dirinya sendiri.                                                                                               
                                                                                                 

Sumber: https://gkjw.or.id

| A R S I P |

 

 

Copyright © 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.