HOME

HOME

ABOUT US

KESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pemahaman Alkitab

Pemahaman Alkitab (PA)
                                                                                          Bulan Oktober 2019 (II)
Bulan Ekumene


Bacaan :
Matius 10 : 5 – 15
Tema Liturgis : Merawat Hubungan Antar Umat Beriman Untuk Mewujudkan Kesejahteraan Bersama.
Tema PA : Berelasi dalam misi Kingship of Heaven, bukan Kingdom of Heaven

PENJELASAN TEKS :

Ayat 5 Yesus mengutus keduabelas murid-Nya untuk melakukan suatu perjalanan penginjilan dalam negeri orang Israel. Mereka (murid) tidak boleh masuk pada negeri kafir dan negeri orang Samaria[1]. Penulis Matius nampaknya memaparkan pembatasan ini hanya bersifat sementara saja. Hal ini dilihat dari tulisan-tulisan akhir di dalam Injil ini (bdk. Mat.28:19-20) jelas dikatakan bahwa semua bangsa harus dijadikan murid Yesus. Nampaknya penegasan untuk tidak masuk terlebih dahulu ke dalam kota Samaria ingin menegaskan, supaya Bangsa Israel menjadi bangsa yang pertama yang mendengar Injil. Hal ini menunjukkan bahwa ke-khas-an penulisan Injil Matius sangat kental dengan Israel (Yahudi)

Ayat 6 Di dalam ayat ini ada point menarik dari kata “domba-domba yang hilang”. Point domba-domba yang hilang nampaknya diadopsi dari tulisan PL (Bdk. Yeh.34:1-31). Ada kritik keras dari Yehezkiel kepada ‘gembala’ yang pada saat itu adalah pemimpin Israel karena mereka tidak mempedulikan ‘domba’ yang adalah warga mereka – gembala hanya berfokus pada pemenuhan dan kepuasan diri mereka.

Yesus tampil sebagai ‘gembala’ yang berbeda! Dia mempedulikan ‘domba’ yang hilang dan mengutus para muridNya supaya juga memperhatikan domba tersebut. Secara harafiah “Domba Hilang” perlu mendapatkan perhatian khusus karena domba adalah hewan yang lemah dan domba tidak akan mampu bertahan hidup di luar kawanan dan jauh dari gembala.

Namun ada sedikit pergeseran makna yang ingin diungkapkan oleh Matius. Jika di dalam tulisan Yeh. 34:4 domba hilang di sini dimaknai sebagai orang-orang yang mengalami penderitaan badani, namun jika dalam nuansa tulisan Matius domba hilang dimaknai sebagai orang yang kehilangan arah untuk mengalami relasi bersama Tuhan (penderitaan rohani). Oleh karena itu perkataan Yesus, memberikan arti yang lebih dalam kepada perkataan “hilang”[2].

Hal ini semakin menegaskan terkait Injil Matius yang sengat menonjol dalam keterkaitannya dengan nuansa Yahudi (bdk. Mark. 6:6b-13). Dalam tulisan Injil Markus tidak ditulis dengan detail tentang pemisahan antara Samaria dan Yahudi juga tidak tulisan domba-domba yang hilang

Ayat 7-8 Di dalam ayat 7 yang menjadi point adalah kata ‘kerajaan’. Dalam teks Yunani yang adalah (Basileia[3] ton uranon) diartikan oleh KJV sebagai Kingdom of Heaven. Namun nampaknya teks ini akan lebih kontekstual jika dipahami sebagai Kingship of Heaven. Yesus mengutus para murid untuk membagikan berita bahwa Kingship of Heaven sudah dekat – masa pemerintahan Allah sudah dekat sehingga perlu untuk melakukan upaya pertobatan. Hal ini menjadikan pengajaran-pengajaran Yesus akan semakin dirasakan oleh semua orang yang dalam hal ini konteks Matius disasarkan kepada orang-orang Israel (Yahudi).

Selain meneruskan pengajaran Yesus, para murid juga diutus untuk berperilaku konkret (praxis-beda dengan practice). Hal ini dimaksudkan bahwa antara teori dengan tindakan konkret harus berjalan bersama. Emanuel Gerrit Singgih menegaskan bahwa berkhotbah tanpa memberi pertolongan akan menjadikan utusan Allah tidak pernah merambah pada konteks yang ada (tidak membumi), di sisi lain pertolongan praktis tanpa ada dasar yang kokoh akan mengaburkan bahwa identitas sebagai utusan Yesus[4]. Oleh karena itu Yesus menegaskan, antara khotbah pengajaran (kerygma) dan pertolongan (diakonia) harus berjalan selaras.

Dalam penutup ayat 8 ada penegasan pengajaran kepada para utusan supaya melakukan tugas panggilan tersebut tanpa ada pamrih! Hal ini dikarenakan segala yang dimiliki oleh murid (utusan) adalah pemberiaan secara cuma-cuma, oleh karenanya ketika berbagi pengajaran dan pertolongan juga dilakukan dengan cuma-cuma tanpa adanya harapan mendapatkan sesuatu.

Ayat 9-10 Yesus melarang para murid untuk mengadakan persiapan dalam perjalanan mereka, baik uang emas, uang perak, uang tembaga. Mereka juga tidak diperkenankan membawa bekal. Kata bekal dalam terjemahan di sini nampaknya sedikit tidak pas, karena jika merujuk dalam bahasa aslinya akan lebih tepat jika diartikan sebagai kantong bekal – sehingga penekanan tidak pada bekalnya namun tempat untuk meletakkan bekal tersebut. Mereka juga tidak diperkenankan untuk membawa persiapan baju[5]. Dan selanjutnya Yesus juga melarang para murid untuk membawa kasut (alas kaki). Nampaknya ada ketidaksamaan antara tulisan Matius dan Markus (Bdk. Mark.6:9). Di dalam tulisan Markus Yesus memperkenankan untuk memakai alas kaki. Nampaknya yang ingin disampaikan Yesus adalah jangan membawa alas kaki cadangan. Hal ini sangat mungkin, karena kecil kemungkinan melakukan perjalanan dalam konteks Israel-Palestina yang panas dan berbatu tanpa menggunakan alas kaki (kasut).

Dalam ayat 10 ditutup dengan penegasan ungkapan kekuatan yang diberikan Yesus, karena seorang utusan diharapkan untuk tidak kuatir dan sibuk mengurus kepentingan pribadi, karena pemeliharaan Allah senantiasa akan dicurahkan.

Ayat 11-13 Menyambung petunjuk dari Yesus agar para murid tidak perlu kuatir akan keperluannya pribadi. Yesus mengutus agar mereka singgah di dalam rumah orang yang “layak”. Saya menduga bahwa kata layak ini adalah orang yang mau benar-benar terbuka terkait pewartaan Kingship of Heaven. Murid juga diutus untuk memberikan salam “damai sejahtera” sebagai tanda orang tersebut disebut ‘layak’ atau tidak. Jika mereka layak maka salam damai itu akan dirasakan oleh rumah tersebut, namun jika mereka menolak maka salam itu tidak akan diterima dan akan kembali pada murid-murid.

Ayat 14-15 Pengkibasan debu dari kaki para murid, sebagai tanda bahwa mereka tidak ada lagi hubungan dengan orang tersebut. Yesus mengatakan bahwa tanggungan orang yang demikian ini akan jauh lebih besar dari Sodom dan Gomora (Kej. 19). Orang Sodom dan Gomora tidak mau menerima tamu dan berniat membuat kejahatan terhadap pendatang, namun kepada Sodom dan Gomora memang tidaklah dibawa pengajaran, seperti pada orang yang dikunjungi para murid. Oleh sebab itu saya membayangkan betapa hebatnya dampak atau akibat seseorang yang menolak pengajaran Yesus, padahal pengajaran itu sudah diberikan kepada mereka.

PERTANYAAN PANDUAN DISKUSI :
1. Apakah yang saudara pahami terkait relasi/ hubungan?
2. Menurut saudara hal apa saja yang menjadi dasar untuk memperjuangkan sebuah relasi? Mengapa?
3. Menurut saudara, terkait pewartaan pengajaran Yesus, siapakah yang paling utama yang harus diajak berelasi? Mengapa?
4. Selanjutnya, terkait Pewartaan Pengajaran Yesus, apa yang menjadi tujuan misi pewartaan tersebut? Jelaskan!
5. Secara sederhana, apakah refleksi kontekstual dari teks Matius 10:5-15 ini berkaitan dengan Relasi antar umat beriman dalam mewujudkan kesejahteraan bersama?

Selamat mengecap dan merasakan Sabda Tuhan, Selamat berefleksi, dan selamat berjuang mewujudkan refleksi saudara! (ABK).

Catatan:

[1] Samaria pada waktu itu dianggap sebagai orang yang bukan Israel (Israel Utara) sebab Samaria telah mengalami percampuran – bukan keturunan murni bangsa Israel, ditambah Samaria tidak mengakuia Bait Allah di Yerusalem.

[2] Drs.J.J.de Heer,Tafsir Matius, (Jakarta:BPK Gunung Mulia), 2009,p.184

[3] Yun. Basileia yang secara harafiah diartikan sebagai kerajaan, namun sebenarnya dalam teks Inggris bisa diartikan sebagai Kingdom dan Kingship. Kingdom lebih menyatakan pada tempat/wilayah. Dalam konteks misi orientasinya pada ekspansi/ perluasan area kekristenan. Sedangkan Kingship lebih berbicara pada pengaruh, kuasa. Dalam konteksnya bukan ekspansi yang ditekankan, namun menyebarkan pengaruh pengajaran (Yesus)

[4] E. Gerrit Singgih,Menguak Isolasi, Menjalin Relasi,(Jakarta:BPK Gunung Mulia)

[5] Perlu mendapatkan kejelasan bahwa Baju yang dipakai oleh orang Yahudi saat itu adala dua lapis, yaitu baju bagian dalam yang dilapisi oleh jaket mantel.

                                                                                                      

                                                                                                 

Sumber: https://gkjw.or.id

| A R S I P |

 

 

Copyright © 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.