HOME

HOME

ABOUT US

KESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pemahaman Alkitab
 

Tema : HARTA DAN KEBENARAN
Bacaan : Lukas 12:13-21 dan Matius 8:19-24
Tujuan : menyadari perlunya kejujuran dalam bekerja, serta cara mengatasi godaan dalam pekerjaan.

1. Nyanyian Pembukaan, KJ 401
2. Doa Pembukaan
3. Pembacaan Alkitab : Lukas 12:13-21 dan Matius 6:19-24
4. Pengantar PA
Banyak orang pada jaman ini yang berpikir, dengan uang / harta segalanya bisa menjadi; akibatnya mereka lalu berusaha mengumpulkan uang atau materi sebanyak-banyaknya supaya dapat terbebas dari berbagai kesulitan hidup. Orang yang berpedoman demikian akan menempuh jalan apa saja dan menghalalkan segala cara asalkan tujuannya tercapai. Sungguh, inilah pemahaman yang keliru dan menyesatkan; dan akan menghasilkan kekecewaan dalam hidup manusia. Sebab ada tertulis; “Berjaga-jagalah terhadap ketamakan, sebab walaupun seseorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidak tergantung dari kekayaannya” (Lukas 12:15)
Orang kristen pun ternyata tidak luput dari pengaruh buruk harta; Kebenaran Firman Tuhan tidak lagi diperhatikan dalam kehidupannya, dan Roh Kudus yang semestinya menguasai kehidupan orang beriman, seringkali malah diganti dengan “roh materialisme” (yaitu; mendewakan materi/harta). Bahkan ada juga yang berani berdalih untuk membenarkan dirinya sendiri katanya:
- Ya … saya tahu, ditinjau dari Firman Tuhan, apa yang saya lakukan ini memang keliru, tapi apa boleh buat. Bukankah saya ini manusia berdosa yang masih hidup di dunia ini …?
- “Tuhan-kan mahakasih. Dia pasti akan mengampuni kesalahanku dalam mencari harta ini, hartaku kan demi pelayanan juga…”
- “saya sadar bahwa usaha saya ini suatu usaha yang tidak halal, ya, tapi apa boleh buat, Tuhan pasti tahu… saya kan terpaksa melakukannya, bukankah roh itu penurut tetapi tubuh itu lemah…?
- Dsb.
Pendek kata, ada banyak orang kristen yang pandai membenarkan diri sendiri dan bahkan berani menggunakan Firman Tuhan untuk menutupi ketamakannya.
Harta dan materi sebenarnya boleh saja dimiliki, untuk sarana pelayanan kepada Tuhan dan kepada sesama manusia, tetapi yang pasti bukan semata-mata untuk kepuasan pribadi. Oleh sebab itu berhati-hatilah terhadap motivasi pemilikan harta kekayaan yang sering membelenggu hidup kita. Orang yang berhasil mengumpulkan materi/harta sebanyak-banyaknya, akan terbius oleh keindahan hartanya, dan ia menjadi orang kaya yang miskin di hadapan Allah. “Karena di mana hartamu berada, disitu juga hatimu berada” (Matius 6: 21).
Dalam Alkitab perjanjian baru Tuhan Yesus kembali menegaskan bahwa dari ketamakan, seperti yang terdapat dalam Lukas 12:13-21. Adalah seorang yang mempunyai perkara yang menyangkut harta waris. Orang tersebut meminta pendapat kepada Tuhan Yesus karena merasa diperlakukan tidak adil oleh saudaranya karena tidak mendapatkan porsi warisan yang semestinya. Dia meminta Tuhan Yesus menegur saudaranya itu sekaligus memberitahukannya agar mau berbagi warisan dengannya.
Namun ternyata Tuhan Yesus merasa keberatan untuk menjadi hakim dalam kasus tersebut dengan alasan bahwa tidak dalam kapasitasNya Yesus mengadili para pihak yang bersengketa. Lagipula menurut Tuhan Yesus, obyek yang menjadi sengketa (dalam hal ini harta warisan) tidak menjadi penjamin hidup manusia.
Tuhan Yesus mengetahui bahwa orang yang berperkara itu dikuasai oleh roh “Ketamakan”. Ketamakan dalam bahasa Yunani memakai kata “Pleonexia” yang berarti penonjolan diri secara berlebihan dalam hal kepemilikan sesuatu dan cenderung serakah. Oleh karena itu Tuhan Yesus merasa perlu untuk mengingatkan orang-orang itu tentang bahaya ketamakan. Karena ketamakan itu cenderung untuk mendapatkan yang lebih atau berlebihan daripada yang sudah ia miliki. Kalau kepemilikan itu berupa harta kekayaan, maka Tuhan Yesus ingin mengatakan bahwa hidup itu tidak sepenuhnya tergantung oleh harta dan kekayaan saja.
Pada ayat ke 16 – 20 merupakan perumpamaan yang melukiskan bagaimana harta itu hanya bisa dinikmati ketika seseorang itu masih hidup. Ketika sudah mati harta itu dengan sendirinya tidak berarti lagi bagi diri pribadi.

BAHAN DISKUSI:
1. Mengapa Tuhan Yesus menolak melibatkan diri dalam perkara orang yang bersengketa mengenai warisan? Apakah dengan demikian Tuhan Yesus tidak peduli dengan perkara jasmaniah atau ketidakadilan? Jelaskan pendapat saudara!
2. Apakah yang dimaksud “Karena di mana hartamu berada, disitu juga hatimu berada” (Matius 6: 21)? Jelaskan pengertian saudara!
3. Studi kasus: Sriwati telah 2 tahun bekerja sebagai karyawati di kantor pemerintah dengan gaji Rp. 900.000,- sebulan, sebagai petugas bagian pembelian alat-alat kantor. Melihat bekas teman-teman sekolahnya kini telah memiliki kendaraan bermotor serta rumah, maka dia bertekad agar bisa berdiri sejajar dengan mereka. Atas anjuran kenalannya yang telah “berpengalaman” di bidang kong-kalingkong, maka kini dia mencoba mempraktekkan metode “permainan kwitansi pembelian barang”. Caranya tersebut ternyata sangat rapi dan berhasil dengan memuaskan berkat “kerjasama” dan bantuan pemilik toko alat-alat tulis yang menjadi langganan tetap kantornya. Kepala bagian tahu akan hal ini, namun berjanji kepada Sriwati tidak akan membuka rahasianya, asalkan Sriwati mau “melayani all in” kebutuhan kepala bagian yang selalu kesepian itu. Demikianlah Sriwati, gadis muda itu bertumbuh menjadi orang kaya bergelimang harta. Bagaimana pendapat Saudara terhadap apa yang dilakukan Sriwati? Jika saudara jadi teman Sriwati apa yang akan saudara lakukan?

5. Nyanyian Akhir, KJ 388
6. Doa Penutup

“Selamat  ber-PA, Tuhan memberkati”

Sumber:
PA GKJ                                                                               

| A R S I P |

 

 

Copyright © 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.