HOME

HOME

ABOUT US

KESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pemahaman Alkitab
 

Tema : JANJI ALLAH SEBAGAI SUMBER PENGHARAPAN
Bacaan : Ratapan 3: 18 – 26
Tujuan : Peserta memahami bahwa Allah – lah satu-satunya sumber pengharapan dan terpanggil untuk setia berharap hanya kepada janji Allah.

1. Nyanyian Pembukaan KJ. 401
2. Doa Pembukaan
3. Pembacaan Alkitab : Ratapan 3: 18 - 26
4. Pengantar PA
Pengharapan sering kali tersembunyi ketika manusia masih tenggelam dalam kekecewaan atau kemarahan di tengah situasi yang buruk “Masih adakah harapan ditengah situasi seperti ini”? itulah pertanyaan yang sering muncul. Pertanyaan yang lebih konkret lagi, “Kepada siapa kami bisa berharap”? sederet nama orang kemudian muncul dipermukaan: orangtua, sahabat, teman, rekan kerja, pendeta, psikolog, anggota jemaat atau pemimpin masyarakat/bangsa. Orang-orang itu bisa memberi harapan namun mereka juga manusia yang mungkin memiliki pergumulan dan harapan yang mirip dengan diri kita sendiri. Satu-satunya sumber pengharapan adalah Allah dan Allah bisa berkarya melalui manusia lain disekitar kita.
Jika Allah yang menjadi sumber harapan, kita tidak akan kecewa terhadap seseorang yang sedang dipakai Allah menjadi saluran harapan bagi kita namun Ia toh punya kekurangan. Lalu bagaimana kita dapat menemukan Allah sebagai sumber pengharapan?, yaitu:
1. Kitab Ratapan adalah kumpulan syair yang bernada sedih karena saat itu orang-orang Israel dikalahkan oleh musuh dan dibuang di tanah Babel. Mereka kehilangan segala-galanya bukan hanya harta benda tetapi juga kemerdekaan sebagai suatu bangsa. Ratapan yang diyakini ditulis oleh Nabi Yeremia ini ternyata juga mengandung kepercayaan akan pertolongan Tuhan sehingga tetap ada harapan bagi masa depan bangsa yang sudah hancur itu.
2. Nabi yang mewakili seluruh umat Israel mengeluhkan kesengsaraan yang harus dialami seperti pil pahit berisi racun yang harus diminum. Kesengsaraan itu ternyata bukan hanya penderitaan fisik melainkan juga penderitaan batin. Jiwaku tertekan! Semacam trauma yaitu sakit di hati bila teringat suatu peristiwa masa lalu.
3. Apakah harapan sudah habis? Tidak mampukah sang Nabi melihat titik terang di tengah kegelapan bangsanya? Inilah yang membedakan Nabi dengan warga Israel yang lain. Ia mau belajar berharap. Usaha itu dimulai dengan keyakinan bahwa Allah itu baik dan setia. Kesetiaan Tuhan itu terbukti dengan terbitnya matahari setiap pagi. Sedangkan orang lain tetap saja tenggelam dalam keputusasaan sehingga tidak mampu lagi melihat terbitnya matahari sebagai tanda kesetiaan Tuhan. Peristiwa setiap pagi itu dianggap biasa dan tidak ada artinya.
4. Bagaimana cara menanti atau berharap kepada Tuhan dalam situasi yang buruk? Nabi menjawab, hanya dengan DIAM! Bila umat terus menerus mengeluh, protes dan berontak terhadap situasi dan bahkan menyalahkan Tuhan, tidak mungkin mereka dapat melihat harapan dan pertolongan yang akan datang. Dengan diam dan tenang, harapan masih ada karena Tuhan itu baik kepada orang yang mau menantikakn an mengharapkan pertolonganNya dengan rendah hati. Diam berarti mau menerima kenyataan dan bahkan mau mengadakan evaluasi diri, mengapa semuanya bisa terjadi.

BAHAN DISKUSI
1. Hal apa saja yang sering membuat seseorang terpuruk dalam keputusasaan? Mengapakah hal itu bisa terjadi?
2. Wajarkah bila kita mengeluh, protes dan menyalahkan situasi bila sedang mengalami hal yang buruk? Bolehkah menyalahkan Tuhan atas situasi yang telah terjadi?
3. Bagaimana kita dapat menemukan kembali harapan ketika situasi penderitaan yang kita alami berkepanjangan seperti yang dialami oleh orang Israel di tanah pembuangan? Kepada siapa kita lari dan mengharapkan pertolongan?
4. Apa artinya “berdiam diri dihadapan Tuhan” pada saat ini? Apakah itu berarti kita hanya harus berdoa?

5. Nyanyian Akhir KJ. 445
6. Doa Penutup  

Sumber: PA GKJ                                                            

| A R S I P |

 

 

Copyright © 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.