HOME

HOME

ABOUT US

KESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pemahaman Alkitab
 

PEBRUARI II

Bacaan              : Yesaya 55:1-13
Tema Liturgis  : Mengosongkan Diri dan Makin Mengenal Allah
Tema PA  : Mendengarkan suara Tuhan
Tujuan : Tertanamkannya nilai-nilai yang tersirat pada kata/ kalimat Alkitab ke dalam penghayatan dan praktik hidup orang percaya.
Metode : Nggayemi (mengunyah berulang-ulang)

Langkah-langkah

  1. Pemimpin membagi peserta PA menjadi beberapa kelompok (jika memungkinkan). Tiap kelompok terdiri dari 4-5 orang.
  2. Tiap kelompok memilih seorang menjadi pemandu jalannya PA
  3. Pemandu PA membaca teks pelan-pelan.
  4. Pemandu PA meminta setiap orang di dalam kelompok itu untuk membaca kembali di dalam hati teks itu secara utuh, tetapi pembacaan itu dilakukan secara pelan-pelan.
  5. Setelah dirasa cukup (selesai) masing-masing membaca, maka pemandu meminta setiap orang untuk mengutarakan tentang pengalamannya setelah membaca teks itu, dengan cara:
    1. Menyampaikan tentang “kata” atau “kalimat” mana dari teks itu yang paling menarik.
    2. Mengapa kata atau kalimat itu menarik hatinya? Ini perlu dijelaskan.
    3. Refleksi atas kalimat itu untuk rancangan hidup ke depan
      Contoh.
      Setelah membaca teks itu secara teliti dan berusaha untuk menghayatinya, maka ada satu kalimat yang saat itu paling menarik perhatian saya, yaitu: “. . . Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup.” Kalimat ini saya simpan rapat-rapat di dalam pikiran saya sambil membayangkan bentuk telinga manusia. Kemudian menjadi jelas di benak saya bahwa kata “sendengkanlah” artinya a) bersedia membuka telinga lebar-lebar dan b) agar kita bisa mendengar dengan jelas suara yang masuk ke telinga, tidak samar-samar. Dalam kehidupan sehari-hari kata itu juga memiliki makna agar kita mau menyediakan waktu yang cukup untuk mendalami dan menggumuli kehendak Tuhan, supaya bisa secara tepat mengerti kehendak-Nya dan tidak salah dalam melakukannya.
      Lalu kata “…maka kamu akan hidup” saya pahami sebagai buah dari kesediaan untuk menyendengkan telinga. Makna kata “hidup” adalah keseharian yang mengikuti jalan Tuhan: tenang, tidak reaktif, mengendap, dewasa.
      Setelah memahami kalimat itu saya kemudian ingat keluarga Pak Drembo. Keluarga itu amat berkecukupan secara materi, tetapi selalu saja mengalami konflik di dalam keluarganya. Bahkan pernah terjadi Bu Drembo meninggalkan rumah sampai beberapa minggu, sementara anak-anaknya pun tak ada yang dapat menyelesaikan kuliahnya, bukan karena kekurangan biaya, tetapi karena hanya menggunakan waktunya untuk bersenang-senang. Saya hanya bisa membayangkan, andai saja Pak Drembo dengan istri dan anak-anaknya masing-masing mau menyendengkan telinganya dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh suara Tuhan, pastilah berbeda keadaannya.
      Refleksi: Di tengah dunia yang makin sulit ini kita perlu terus mengasah ketajaman telinga untuk mendengar suara Tuhan.
  1. Setelah satu orang selesai mengutarakan pengalamannya dengan teks itu, yang lain bergantian menyampaikan.

Catatan:

  1. Sangat dianjurkan kelompok satu dengan lainnya tidak berdekatan, supaya: a) masing-masing lebih fokus pada kelompoknya, b) ada moment hening yang benar-benar bisa dimanfaatkan oleh peserta PA, terutama saat membaca di dalam hati teks yang akan dibicarakan agar bisa menemukan kata/ kalimat yang memikat hati.
  2. PA dengan metode Nggayemi ini lebih diarahkan pada proses internalisasi (pendalaman) ayat-ayat, bukan kognisi (pengetahuan).
  3. Pemandu menjalankan perannya untuk mempertajam pengalaman-pengalaman yang telah disampaikan oleh peserta.

-smdyn-

| A R S I P |

 

 

Copyright © 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.