HOME

HOME

ABOUT US

KESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pemahaman Alkitab

NOPEMBER I 2015

 
Bacaan : Ibrani 9: 24-28
Tema Bulan : Allah sebagai Bapa dan Penyelamat.

Pengantar

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa kitab Ibrani merupakan sebuah kitab yang khusus. Artinya, kitab Ibrani ditempatkan di bagian agak belakang dari susunan kitab-kitab di dalam Perjanjian Baru. Persisnya, kitab Ibrani berada di belakang surat-surat Rasul Paulus. Dengan kata lain, kitab Ibrani tidak lagi termasuk bagian dari surat-surat Rasul Paulus. Kalau demikian, apakah kitab Ibrani merupakan bagian dari surat-surat am, seperti Surat I dan II Yohanes, I dan II Petrus? Tidak juga. Kitab Ibrani, kalau menilik isinya, adalah kitab yang utuh. Isinya utuh. Uraiannya, khas bahasa khotbah yang panjang. Sebenarnya, surat-surat am juga merupakan khotbah yang panjang. Namun, kitab Ibrani menempati tempat tersendiri. Kitab Ibrani berpusat pada keutamaan Yesus Kristus sebagai Sang Imam Agung. Bukanlah imam agung manusiawi. Melainkan Yesus Kristus adalah Imam Agung yang sedemikian istimewa dan unik, sehingga hanya dengan mempersembahkan korban sekali saja, seluruh dosa umat manusia terhapuskan. Manusia sejak awal sejarahnya sampai masa akhir sejarah bangsa manusia terangkum menjadi satu. Kesatuan manusia berdosa. Yesus Kristus mengorbankan darah-Nya sendiri. Bukanlah darah domba. Darah kudus-Nya sendiri dan hidup-Nya sendiri dipersembahkan sebagai korban kudus dan kekal. Dengan korban kudus dan kekal, manusia dan dunia ciptaan tertebus. Semuanya, pada dasarnya, telah dimerdekakan dari ikatan dosa. Namun demikian, bahwa manusia, satu persatu, masih menjalani hidup sebagaimana seorang yang masih terjajah oleh dosa, mereka bagaikan seorang pejuang yang berjuang demi kemerdekaan. Mereka sangat jauh masuk ke dalam rimba. Bergerilya. Tapi berjauhan dari kesatuan tempurnya. Terlambat mendapat kabar baik, bahwa kemerdekaan telah diproklamasikan. Artinya, proklamasi kemerdekaan atas seluruh negeri telah dikumandangkan. Juga telah dijamin secara yuridis. Tetapi, bagaimana menjalani hidup sebagai orang termerdekakan? Bagaimana menjalani hidup semakin termerdekakan merupakan pertanyaan riil, sehari-hari, aktual, dan menantang bagi setiap orang yang belum kunjung yakin, bahwa ‘dunia’-nya telah dimerdekakan.

Kitab Ibrani berisi uraian khotbah panjang. Khotbah seperti itu diurai secara panjang lebar. Puncak uraian khotbah di dalam kitab Ibrani adalah Ibrani 11. Bertutur perihal iman. Disusul dengan Ibrani 12 dan Ibrani 13. Susulan, alias kedua bab terakhir kitab Ibrani, berisi uraian praktis tentang implemantasi atau penerapan hidup beriman. Hidup tertebus. Hidup termerdekakan. Jadi, sebagai sebuah ‘khotbah yang panjang’, kitab Ibrani menempati tempat yang khusus di dalam Perjanjian Baru.

Struktur atau kerangka utuh kitab Ibrani adalah demikian.

(1) ‘Tuhan telah berbicara melalui seorang Putera, dengan wahyu yang lebih tinggi ketimbang wahyu kepada para nabi (pasal 1-2);

(2) Putera itu adalah Yesus, yang lebih tinggi dari Musa (3:1 – 4:13);

(3) Yesus adalah seorang Imam Agung yang telah masuk menembus sorga, namun sekaligus Ia adalah manusia (4:14 – 7:28);

(4) Yesus bukanlah bayang-bayang yang maya, melainkan benar-benar kenyataan, yang telah mengorbankan darah-Nya sendiri; karena itu orang Kristen boleh memiliki keberanian untuk memasuki tempat suci (8 – 10);

(5) seluruh khotbah diakhiri dengan uraian yang penjang mengeni iman (pasal 11), konsekuensi dan implikasinya (pasal 12 dan 13).

Dengan memperhatikan kerangka utuh kitab Ibrani, perikop Ibrani 9:24-28 diketahui pula tempatnya dalam keseluruhan kitab Ibrani. Perikop Ibrani 9:24-28 merupakan bagian dari kitab Ibrani pasal 8-10. Isinya, secara ringkas, adalah demikian: ‘Yesus bukanlah bayang-bayang yang maya, melainkan benar-benar kenyataan, yang telah mengorbankan darahNya sendiri; karena itu orang Kristen boleh memiliki keberanian untuk memasuki tempat suci’. Perihal ke-nyata-an Yesus Kristus jelaslah nampak dalam bentuk darah dan tubuh yang dikorbankan. Darah dan tubuh-Nya sendiri dikorbankan.

Kitab Ibrani 9:24-28 menekankan perihal ‘bukan masuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya, sebagaimana Imam Besar. YESUS KRISTUS lebih dari seorang Imam Agung duniawi manapun: hanya satu kali saja mempersembahkan korban, langsung korban darah-Nya sendiri ‘untuk menghapus dosa’ (ayat 26), ‘untuk menanggung dosa banyak orang’ (ayat 28 a), ‘untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.’ (ayat 28 b)

Fokus perhatian kitab Ibrani 9:24-28 meng-khotbah-i umat Tuhan yang hidup di dunia-filsafat platonik. Maksudnya, Rasul Paulus menegaskan, bahwa Yesus Kristus berdarah dan berdaging. Yesus Kristus adalah manusia. Nyata. Bukannya seolah-olah manusia. Yesus Kristus bisa merasakan derita, justru Dia sebagai manusia. Bukannya berpura-pura menderita. Yesus Kristus benar-benar mati. Ketika darah-Nya tercurahkan, tuntas, Dia benar-benar mati. Jadi, Yesus Kristus adalah manusia. Persis seperti manusia umumnya.

Tetapi, Yesus Kristus adalah Ilahi. Yesus Kristus tanpa dosa. Bersih, Dia. Tanpa cacat, Dia. Suci, Dia. Kekal, Dia. Meskipun demikian, Yesus Kristus bukanlah berhala. Dia dapat disentuh. Dia dapat didekati dengan cara-cara manusiawi. Dia merasakan susah payah menjadi dan sebagai manusia. Dengan kata lain, kalau pun Yesus Kristus adalah sedemikian agung, mulia, luhur, suci, dan ilahi, namun Dia hidup secara dan sebagai manusia.

Pertanyaan Teks Ibrani 9:24-28

Ayat 24: apakah ‘tempat kudus’ yang dimaksud adalah bagian dari Bait Allah? Apakah sudah tergambar pada kita, bahwa konteks ayat 4 adalah seorang imam yang sedang mempersembahkan korban (bandingkan juga Keluaran 30:10; Imamat 4)?
Ayat 25: sebutkan satu persamaan dan satu perbedaan antara korban yang dipersembahkan seorang Imam Agung dan korban yang dipersembahkan oleh Yesus Kristus!
Ayat 26 – 28: berapa kalikah Yesus Kristus berkorban untuk menghapuskan dosa?

Pertanyaan refleksi

Apakah Anda pernah menjalani kehidupan yang tidak suci? Apakah jalan hidup Anda selama ini, terutama jalan hidup yang tidak suci, dapat disebut sebagai ‘menyalibkan’ Sang Kristus berulang-ulang?
Bagaimana sebaiknya Anda menjalani hidup yang mencerminkan hidup kudus yang telah ditebus dengan korban darah kudus dan kekal dari Sang Imam Agung Yesus Kristus?
Menurut Anda, apakah ‘grafik’ hidup Kristen Anda semakin jauh memasuki rimba dosa?
Menurut Anda, apakah persentase hidup suci Anda semakin baik, dari 60 menjadi 70, atau bahkan telah semakin baik lagi?

Penegasan


Kesamaan/ kemiripan konteks kehidupan gerejawi saat ini dan konteks kitab Ibrani 9:24-28 adalah demikian. Kita tersadarkan ulang, bahwa hidup kita masih terwarnai bahaya glorifikasi/ pemuliaan diri (pribadi sendiri, keluarga, kelompok kecil, kelompok besar, keluarga kecil, keluarga besar, keberuntungan fisik berskala kecil, keberuntungan fisik berskala besar, keyakinan/agama eksklusif, privilege (hak istimewa) berupa derajat-pangkat-gelar akademis-gelar bangsawan)…. pokoknya apa/ siapa saja yang menjadikannya hidup-terpisah dari kehidupan nyata. Ideologi juga bisa membuat orang hanya hidup di angan-angan (representasinya adalah kata ‘harus’, ‘mestinya’, ‘standard-nya’; atau ‘dulu-nya’, ‘pernah… dulu-nya’, ‘pengalaman-ku, dulu….’)

Kesimpulan kita, dengan berkaca dan atau menimba kekuatan dari kitab Ibrani 9:24-28, maka, baiklah kita: (1) mematutkan diri untuk menjadi ‘glorified’, menjadi ‘mulia’ secara positif, yakni: ada perjuangan, ada proses-menjadi semakin glorified. (2) glorifikasi kosong menjebak orang pada manipulasi, ngapusi, ilusi, justifikasi diri yang semu. (3) DIA membasuh hidup manusia dan dunia dari dosa (kutuk, kenajisan, ketidakberdayaan yang laten), sedangkan manusia sendiri hanyalah ‘mempersiapkan diri’ sebaik-baiknya, sejauh persiapan tersebut bersifat manusiawi alias apa yang dapat dijangkaunya dengan sebaik-baiknya, seindah-indahnya, sejujur-jujurnya, sebersih-bersihnya. Selebihnya adalah penyucian sejati-kekal-definitif dari DIA, SANG IMAM AGUNG KEKAL. [sw] (Sumber: GKJW.web.id)

 

| A R S I P |

 

 

Copyright © 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.