HOME

HOME

ABOUT US

KESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pemahaman Alkitab
 

PEMAHAMAN ALKITAB KELUARGA
PEKAN PENDIDIKAN KRISTEN


Tema :
PENGAMPUNAN, PENGHIBURAN, DAN KASIH ADALAH DASAR PEMULIHAN HUBUNGAN ANTARMANUSIA
Bacaan : II Korintus 2: 3-11
Tujuan : Peserta dapat mewujudkan pemulihan hubungan melalui pengampunan, penghiburan, dan kasih.

1. NYANYIAN PEMBUKAAN
2. DOA PEMBUKAAN
3. PEMBACAAN ALKITAB : II KORINTUS 2: 3 11.
4. PENGANTAR PA
Ada dua tujuan yang hendak diwujudkan oleh Rasul Paulus ketika menuliskan surat II Korintus 2:3-11. Pertama, ia ingin agar kesedihannya terhapus. Kedua, ia ingin membangun kembali hubungan dengan jemaat Korintus, yang rupanya terganggu.
Terganggunya hubungan Rasul Paulus dengan orang-orang Korintus itu karena kehadiran rasul-rasul palsu yang menghasut Jemaat Korintus serta menyesatkan jemaat (II Korintus 11:13). Rasul Paulus menyebutkan rusaknya hubungan antara dirinya dengan jemaat Korintus sebagai sebuah kedukaan besar. Disebut sebagai kedukaan karena rusaknya hubungan melahirkan kesedihan yang mendalam, apalagi hubungan itu telah dibangun dalam waktu yang cukup lama. Keinginan Paulus adalah mengganti kedukaan menjadi kesukacitaan bersama. Dan, Paulus tahu, kesukacitaan itu akan terwujud jika (dan hanya jika) sebuah hubungan yang rusak itu telah dipulihkan kembali.
Dalam menuliskan suratnya kepada Jemaat Korintus, perasaan Paulus dipenuhi oleh kecemasan dan kesesakan, bahkan dengan mencucurkan banyak air mata. Hal ini terjadi karena begitu besar cinta Paulus kepada orang-orang Korintus (ayat 4).
Kita bisa membayangkan situasi Rasul Paulus saat itu. Ia tidak ingin kehilangan hubungan yang telah dibangunnya bersama orang-orang Korintus. Seberapa hubungan antara orang-orang Korintus dengan Paulus, sehingga ia begitu bersedih atas rusaknya hubungan mereka?
Dalam I Korintus 4:15 dan 21, Rasul Paulus menunjukkan bahwa ia adalah bapa mereka dalam iman. Betapa sedih hatinya jika antara bapak dan anak tidak memiliki hubungan yang baik. Karena itulah, sebagai bapak, ia merangkul anaknya kembali untuk hidup bersama dalam iman dan kasih kepada Kristus.
Rupanya dalam jemaat Korintus ada seseorang yang menimbulkan kesedihan (ayat 5) dan hal itu rupanya menunjuk pada rasul palsu yang disebut Paulus dalam II Korintus 11:13. Rasul Paulus mengingatkan, sesungguhnya kesedihan yang dibuat oleh seseorang itu tidak hanya menyedihkan dirinya secara pribadi, tetapi juga orang orang Korintus. Dari sini Paulus menghimbau untuk menegur orang itu supaya ia bertobat (ayat 6). Teguran itu dimaksudkan untuk mengajak orang yang tersesat bisa kembali ke jalan yang benar. Teguran adalah bentuk kepedulian. Dalam teguran terdapat didikan agar seseorang yang bersalah menemukan kesalahannya serta bertobat.
Bahkan, Paulus tidak hanya mengajak Jemaat Korintus dengan menegur saja. Melainkan, ia juga mewujudkan pengampunan kepada orang yang bersalah itu (ayat 7). Paulus sendiri sebenarnya telah dirugikan oleh orang yang bersalah itu, sebab Paulus telah difitnah olehnya. Tetapi, bagi Paulus pengampunan harus dinyatakan terlebih dahulu agar hubungan dipulihkan serta pihak yang bersalah beroleh penghiburan dalam Kristus.
Nasihat indah lainnya yang dinyatakan oleh Paulus kepada orang Korintus (selain menegur, mengampuni, dan menghibur orang yang bersalah) adalah mengasihi orang yang bersalah (ayat 8). Mengapa hal itu harus dikerjakan? Rasul Paulus menyebutkan sebagai sebuah ujian (ayat 10). Mengampuni dan mengasihi adalah bentuk nyata dari ibadah Kristen. Sebab, didalam pengampunan dan kasih terjadi pemulihan hubungan dan kemuliaan nama Tuhan. Sebaliknya, dalam kebencian dan pengucilan, iblis memanfaatkannya untuk memecahbelah jemaat.
Melalui pembelajaran ini, marilah kita membangun hubungan bersama yang dipenuhi pengampunan, penghiburan dan kasih. Supaya, dengan demikian, nama Tuhan benar-benar dimuliakan. Juga, marilah kita mengajarkan hal itu semua dalam keluarga, sekolah, jemaat serta di mana pun kita berada. Amin.

BAHAN DISKUSI
1. Apakah yang kita rasakan ketika dalam hidup bersama terjadi perbedaan pendapat dan konflik yang mengarah pada perpecahan?
2. Apa yang akan terjadi jika dalam hubungan tidak ada kesediaan saling mengampuni?
3. Apa sajakah upaya yang mesti dilakukan agar sikap hidup saling mengampuni bisa terwujud dalam kehidupan bersama?
4. Bagaimanakah saudara hendak menerapkan pembelajaran mengenai hidup saling mengampuni tersebut dalam mendidik anak-anak saudara sesehari?
5. NYANYIAN AKHIR
6. DOA PENUTUP

            
Sumber: PA GKJ                                                                                     

| A R S I P |

 

 

Copyright 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.