HOME

HOME

ABOUT US

KEKESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pembinaan Iman

BERBAGI RUANG
(Upaya Memahami Kebersamaan Kita dengan Umat Beragama Lain dalam Konteks Keberagaman di Indonesia)

Perbedaan adalah sebuah realitas yang tidak mungkin dipungkiri. Tidak ada yang sama di muka bumi ini. Kalau itu manusia, meski sama namanya, pasti lain orangnya. Kalaupun sama hobbynya, tentu lain sifatnya.

Sepanjang perjalanan sejarah manusia, perbedaan seringkali disikapi dengan setengah hati. Malah ada yang dengan antipati. Sebuah Injil mengisahkan tentang pertemuan Yesus dengan seorang Perempuan Samaria di Sumur Yakub (Yohanes 4:9). Ketika Yesus meminta minum kepada perempuan itu, apa yang dikatakan perempuan itu kepadaNya? “Masakan Engkau seorang Yahudi, minta minum padaku, seorang Samaria”. Pertanyaan itu tidak mengherankan pada jamannya. Malah sebuah pertanyaan yang wajar, karena orang Yahudi tidak (mau) bergaul dengan orang Samaria.

Sikap semacam ini sebenarnya tidak berdiri sendiri pada jamannya, namun diwarisi dari generasi bergenerasi sebelumnya. Ambil contoh bila melihat sikap Yunus, ketika Allah menghendaki pertobatan Niniwe dan mengutus Yunus untuk menyampaikan berita penghukuman itu. Apa yang dilakukan oleh Yunus? Lari ke Tarsis. Pelarian itu menunjukkan perbedaannya dengan sikap Allah yang mengasihi semua bangsa. Kalau hingga jaman Yesus kita masih melihat dengan jelas semangat pembedaan terhadap orang atau kelompok atau bangsa lain, hal ini menunjukkan betapa berhasilnya generasi pendahulu dalam melakukan transfer kebencian dan mengoper stigma negatif tentang mereka yang berbeda, kepada generasi sesudahnya. Bahkan hingga saat ini, hal semacam ini terus terulang.

PERBEDAAN AGAMA : PERSOALAN YANG DIANGGAP PALING HAKIKI?
Seorang kawan bertanya, mana lebih baik; “Sama agama beda bangsa, atau sama bangsa beda agama?” Idealnya semuanya baik. Namun pada kenyataannya keadaan yang pertama, dianggap lebih baik ketimbang yang kedua. Kita melihat fenomena, di mana kesatuan atas nama agama, telah menembus batas-batas suku bahkan bangsa. Kita menjumpai begitu banyak solidaritas terhadap nasib umat seagama. Sebaliknya, meski hidup satu bangsa, kita juga menjumpai kenyataan, di mana antara seorang dan yang lain dapat dipecahbelah.
Pertanyaannya : Mengapa????

Agama bagi sebagian besar orang, dianggap sebagai hal yang paling hakiki. Orang masih bisa menerima ketika diejek orang karena wajahnya jelek, tetapi tidak bisa begitu saja menerima jika dikatakan agamanya jelek. Untuk yang pertama, seseorang masih bisa menahan diri. Tetapi untuk yang kedua seseorang bisa memiliki keberanian dan kerelaan untuk mati, yang seringkali muncul dalam fanatisme sempit yang tidak habis pikir di nalar. Itulah seringkali nasib agama. Namun apa yang dianggap hakiki (yang terdalam) dalam pemahaman di atas tadi, sebenarnya sangatlah bersifat periferi (permukaan saja), sebab agama dari asal katanya sesungguhnya bermakna : “tidak kacau” (sanskert. a : tidak, gama : kacau) Orang-orang beragama yang senang dengan kekacauan dan senang membuat kacau, pastilah sudah terlepas dari hakekat yang sebenarnya dari tujuan mereka beragama. Itulah sebabnya, orang beragama harus kembali mencari yang benar-benar hakiki.

HAKEKAT NATAL : KESEDIAAN UNTUK BERBAGI RUANG

Mengapa Yesus yang adalah Allah mau turun ke dunia? Jawabannya sederhana, bahwa itu adalah buah dari kesediaan untuk berbagi ruang dengan nasib manusia. Ada ruang yang disediakan di hati Tuhan untuk memikirkan dan memperjuangkan manusia dalam ketidakberdayaannya.

Melalui kisah Natal, apa yang dilakukan oleh Yesus tergambar dengan jelas melalui apa yang dilakukan oleh binatang : domba., ketika mereka menyambut Yusuf dan Maria, orang asing yang sedang kehabisan tempat penginapan. Tidak ada ruang untuk meletakkan kepala dan membaringkan tubuh mereka. Namun, domba-domba itu telah memberikannya. Mereka mau berbagi ruang. Bukan hanya itu, bahkan mau berbagi hidup, karena sebagian makanan (rumput) mereka, diserahkan agar bayi Yesus dapat dibaringkan dengan lebih nyaman.

Natal yang pada hakekatnya merupakan kesediaan untuk berbagi ruang itu, menjadi alasan mengapa dalam hal ini kita juga perlu berbagi ruang dengan saudara-saudara kita yang beragama lain, yang sering kali kita pandang sebagai liyan (orang asing).

Beberapa bagian Alkitab juga mencatat pentingnya semangat berbagi ruang.
~ Matius 8:5-13
Pada bagian ini, Yesus memberikan apresiasi kepada seorang perwira Kapernaum karena iman yang ditunjukkan, ketika dia meminta Yesus untuk menyembuhkan hambanya. Yesus berkata: “Sesungguhnya, iman sebesar ini, tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun, sekalipun di antara orang Israel”.

Pernyataan Yesus ini menyentak, karena orang Israel merasa bahwa diri merekalah pemilik iman yang besar itu, sedangkan yang lain adalah para kafir.

~ Lukas 10:25-37
Hal yang sama juga Yesus ungkapkan melalui perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati. Selama ini orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria. Jangankan melakukan hal baik terhadap orang Samaria, menerima kebaikan pun dinilai sebagai hal yang tabu.

~ Tentu masih ada banyak yang lain

Bagian Alkitab di atas tadi bukan hanya memperlihatkan bahwa Yesus bergaul dengan mereka, namun lebih dari itu Yesus sanggup memberikan penghargaan terhadap mereka yang berbeda.

Dalam semangat inilah, pengikut Yesus perlu meneladan. Jika kita berharap bahwa Natal yang kita rayakan bisa sampai pada hakikatnya, maka kesediaan berbagi ruang harus mendapatkan relevansinya dalam kehidupan kita.

TANTANGAN untuk HIDUP BERBAGI RUANG

Setiap orang tentu harus bangga dengan diri sendiri. Rasa bangga itu menunjukkan bahwa seseorang bisa menerima dirinya sendiri. Itulah modal untuk kita bisa tampil percaya diri.
Namun kebanggaan terhadap diri sendiri, pada saat yang sama sering dibarengi dengan ketidakmampuan menghargai yang lain. Celaka jika setiap orang melakukan hal serupa.
Kegagalan untuk bisa hidup berdampingan dengan orang lain, sering dimulai dari sini.

Setidaknya dalam dua dasawarsa terakhir, hidup bersama sebagai bangsa, menunjuk kepada tanda-tanda kegagalan serupa. Indonesia yang dihuni oleh masyarakat majemuk, yang dibangun atas penghargaan akan kebhinnekaan, sedang berhadapan dengan ancaman perpecahan. Beberapa hal yang mencirikan keadaan ini dapat dilihat dalam fenomena
berikut :

a. Xenophobia

Secara harafiah berarti : ketakutan terhadap sesuatu yang asing. Keterasingan terjadi ketika kita merasa tidak sama dengan yang lain. Orang mudah merasa asing dan mudah melihat orang lain sebagai orang asing, karena fokus pandangnya diletakkan pada perbedaan. Selama orang terus melihat perbedaan dengan kaca pembesar, kita akan makin melihat perbedaan sebagai sesuatu yang menakutkan. Perbedaan mudah dilihat sebagai ancaman, sehingga seseorang akan gampang sekali jatuh pada sikap curiga dan tidak percaya.

Di banyak tempat, kita mendengar betapa sulitnya umat beragama tertentu mendirikan rumah ibadah dan menjalankan kegiatan keagamaannya.

Ini dampak yang kelihatan dari masyarakat yang sudah terpapar sindrom xenophobia.

b. Fanatisme sempit
Duta Besar Palistina untuk Indonesia menunjukkan keheranannya atas sikap dan dukungan masyarakat Indonesia yang menurutnya dilakukan dengan alasan yang tidak tepat. Dubes ini menjelaskan bahwa persoalan yang dihadapi leh bangsa Palistina sama sekali tidak terkait dengan persoalan agama, tetapi persoalan tanah. Palistina sendiri memiliki beragamaan yang beragam, baik itu Yahudi, Kristen maupun Muslim. Salah satu bukti bahwa agama tidak menjadi persoalan di sana adalah kehadiran pemimpin Hamas, ketika seorang pejabatnya yang beragama Kristen tewas oleh serangan Israel. Pemimpin Hamas ini hadir dan turut serta dalam ibadah yang diselenggarakan di sebuah gereja.
Itulah sebabnya Duta Besar ini sangat heran dengan anggapan bahwa ini merupakan peperangan atas nama agama.

Contoh di atas memperlihatkan adanya solidaritas yang keliru. Itu terjadi karena fanatisme yang sempit dalam memandang persoalan. Tanpa memahami dengan baik, seseorang sudah mengabdikan keberpihakannya. Gejala semacam ini bukan tidak terjadi di antara kita, orang-orang Kristen, sebab tidak sedikit di antara kita yang memiliki bersikap sama, hanya tindakannya saja yang mungkin berbeda. Keyataan ini menunjukkan bahwa ada sebuah tugas berat, membawa bangsa kita ini untuk dapat berdampingan dengan orang yang berbeda agama.

c. Melihat pihak lain dengan ukuran diri sendiri
Tentu lebih mudah untuk memahami diri sendiri, ketimbang orang lain. Demikian juga menganggap diri benar ketimbang orang lain yang benar. Sikap semacam ini dilihat secara serius oleh Yesus dalam kisah-kisah Injil. Hingga Tuhan Yesus harus mengatakan :
“Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam
matamu tidak engkau ketahui?” (Matius 7:3). Mudah melihat kesalahan orang lain dan sulit melihat kekurangan sendiri.
Fenomena yang sama juga terjadi dalam kaitan kehidupan umat beragama di Indonesia.
Begitu mudahnya kelompok yang satu menganggap yang lain salah atau sesat. Begitu mudah kelompok yang satu melakukan tindakan penghakiman terhadap kelompok yang lain. Yang satu menganggap diri mewakili kebenaran Tuhan, yang lain dianggap sebagai yang harus diluruskan.

PERAN KEKRISTENAN DI TENGAH KEBERAGAMAAN YANG MAJEMUK

Di tengah-tengah semakin sulitnya kita untuk berbagi ruang bagi perbedaan, tidak berarti bahwa keindahan hidup bersama tidak perlu lagi untuk diupayakan. Yesus dahulu hanya memulai dari beberapa gelintir orang, namun dengan kesungguhan dan konsistensi tanpa henti, buahnya terasa hingga sampai saat ini. Yang jelas tidak akan terjadi hari ini, jika dulu Yesus tidak memulai.
Beberapa hal dibawah ini mungkin bisa menjadi perenungan bersama, untuk menolong kita melakukan apa yang memang seharusnya dilakukan.

a. Belajar Memandang Sejarah dengan Cara yang Benar

Tidak bisa dipungkiri, manusia hidup dengan dipengaruhi oleh sejarah masa lalu.
Sejarah yang baik, umumnya berdampak baik, sebaliknya sejarah buruk akan berpengaruh buruk. Namun dengan melihat sejarah dengan benar, manusia tidak perlu jatuh pada kesalahan buruk di masa lalu, sebaliknya belajar dari apa yang buruk, kita memperbaikinya dan membuat langkah baru ke masa depan.

Harus diakui, kita mewarisi relasi-relasi buruk dalam sejarah masa lalu, yang membuat hubungan dengan umat beragama lain terlihat kurang indah. Terkhusus relasi dengan saudara muslim, persoalan itu sudah dimulai sejak Abraham, terkait dengan Ismail dan Ishak. Dengan melihat silsilah itu, tanpa disadari kita memposisikan diri dalam jalur keberpihakan yang membuat relasi kita dengan saudara kita menjauh.

Keadaan ini diperparah dengan kebijakan Pemerintah Hindia Belanda yang membagi
masyarakat dalam tiga kelas : Eropa, Asia Timur dan Inlander (pribumi). Pengkotak-kotakan ini memunculkan banyak stigma negatif baik kekristenan terhadap orang lain maupun sebaliknya, orang lain terhadap kekristenan. Hal ini terjadi karena kekristenan diidentikan dengan penjajah, sedangkan masyarakat pada umumnya memeluk islam.
Kebijakan Pemerintah Hindia Belanda membagi wilayah tinggal, juga membuat relasi baik fisik maupun emosional makin jauh.Kalau kita memandang sejarah dengan benar, bahwa sejarah adalah alat untuk belajar, maka kita tidak akan dihantui oleh kepahitan di masa lalu.

b. Mewarnai Sejarah dengan Sikap dan Tindakan yang benar
Kita tidak harus ditentukan oleh sejarah tetapi kita juga diberikan kesempatan untuk mengukir dan mewarnai sejarah. Sebagaimana apa yang terjadi saat ini merupakan produk masa lalu, demikian juga apa yang akan terjadi nanti merupakan produk hari ini. Kalau kita bisa mewarnai dengan sikap dan tindakan yang benar, tentu sejarah kedepan juga akan merasakan dampak dari kebenaran yang kita tunjukkan. Pikiran dan tindakan yang benar itu setidaknya meliputi :
~ Wariskan Apa yang Baik
Relasi antar umat beragama yang terjadi saat ini, menunjukkan keberhasilan generasi tua dalam melakukan transfer kebencian dan mengoper stigma negatif tentang orang lain, kepada anak cucu dan keturunannya, sehingga kecurigaan dan kebencian tidak pernah ada selesainya.

Untuk itu, generasi tua perlu mengajarkan pikiran dan meneladankan tindakan yang baik.
Belajar memberikan apresiasi terhadap perbedaan, khususnya perbedaan agama. Selain pendidikan agama, dirasa penting dalam kurikulum pendidikan juga mengajarkan pendidikan religiusitas, sebagaimana yang sudah dipelopori oleh saudara-saudara kita katolik.

~ Belajar Melihat Apa yang Sama – Tidak Melulu Fokus pada Yang Beda
Pdt, Joas Adiprasetia, dalam bukunya : Mencari Dasar Bersama, mengajak setiap umat beragama untuk tidak terus mengedepankan perbedaan, tetapi mencoba mengembangkan titik kesamaan yang dapat mempersatukan. St. Sunardi dosen dan budayawan Yogyakarta memberi isi terhadap gagasan di atas. Dia mengemukakan pentingnya berekstase lewat seni.
Seni itu universal. Dia bisa mempersatukan manusia dari berbagai sekat. Termasuk sekat agama. Titik kesamaan itu juga akan muncul ketika kita berbicara tentang kemanusiaan, tentang kejujuran, tentang keadilan. Titik kesamaan itu juga dapat dikembangkan menjadi sebuah kegiatan bersama yang dapat mempersatukan berbagai unsur agama.

Belum lama ini Gereja Kristen Indonesia bekerjasama dengan Nadlatul Ulama mengadakan seuah event besar, bernama Job Fair, yang diikuti oleh ratus perusahaan dan ribuan para pencari kerja.
Bagi GKI ini merupakan kegiatan yang kesekian kali. Bersama NU, ini baru untuk pertama kali. Kegiatan ini merupakan bentuk konkret bahwa perbedaan bukan halangan. Disamping mereka bersatu, masing-masing juga menemukan cara untuk menjawab penggilan dalam agamanya.

Bumi yang satu di dikaruniakan Tuhan kepada kita semua. Oleh sebab itu, semua yang ada di dalamnya harus bisa bekerjasama. Perbedaan adalah bunga, yang saling memperlengkapi dan memberikan keindahan. Demikian kita harus memandangnya.

Sebuah kutipan lagi mengakhiri tilisan ini :

WHAT A WONDERFUL WORLD

I see trees of green, red roses too Aku melihat pepohonan hijau, juga mawar-mawar merah
I see them bloom, for me and for you Aku melihatnya mekar untukmu dan untukku
And I think to myself Dan aku berpikir,
What a wonderful world O, alangkah indahnya dunia ini

I see sky of blue, cloud of white Aku melihat langit biru dan awan putih
The brightness day, the dark kiss night siang hari yang terberkati dan malam hari yang suci
And I think to myself Dan aku berpikir,
What a wonderful world O, alangkah indahnya dunia ini

Reff :
The colour of the rainbow Warna-warni pelangi
So pretty in the sky begitu indah menghiasi angkasa
Or also and the faces juga wajah-wajah
All the people passing bay orang yang lalu lalang
I see friend shake in hand Aku melihat sahabat saling berjabat tangan
Say how to do dan berkata “apa kabar”
The really saying, I love you Mengatakan sungguh “Aku menyayangimu”

I see babys cry, I wacth them grow Aku mendengar bayi-bayi menangis, dan bertumbuh
They learn much more, then I ever know Mereka akan belajar lebih banyak hal daripada yang aku tahu
And I think to myself dan aku berpikir
What a wonderful world O, alangkah indahnya dunia ini

(Nantikan Seri Pembinaan selanjutnya!)
 

 | ARSIP |

 


 

Copyright © 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.