HOME

HOME

ABOUT US

KEKESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pembinaan Iman

MEDITASI KRISTEN

DIMANAKAH POSISINYA DALAM SPIRITUALITAS [1]

Linna Gunawan

  1. 1. PENGANTAR

Mendengar kata “Meditasi” seringkali kecurigaan kita terhadap Meditasi Kristen melekat pada praktek keagamaan/kepercayaan tertentu. Tudingan sebagai bagian dari praktek gerakan zaman baru (New Age Movement) atau sinkretisme agama membuat praktek meditasi sulit menembus tembok-tembok gereja.[2] Walaupun sikap gereja tidak selalu kontra terhadap meditasi Kristen, ada pula yang bersikap pro, namun pada kenyataannya meditasi Kristen sulit dipahami sebagai bagian dari spiritualitas Kristiani, khususnya bagi gereja Protestan.

Materi pembinaan yang saya sampaikan kali ini berupaya untuk memahami meditasi Kristen secara proposional. Artinya penerimaan atau penolakan terhadap meditasi Kristen harus didasari oleh pengenalan yang baik terhadap apa dan bagaimana meditasi Kristen tersebut. Adakah tempatnya dan dimanakah posisinya dalam spiritualitas Kristiani? Lewat uraian singkat mengenai spiritualitas, sejarah perjalanan spiritualitas dalam kehidupan gereja Kristen bahkan meditasi dalam Alkitab, semoga kita dapat menilai secara obyektif praktek meditasi Kristen ini

  1. 2. SPIRITUALITAS: MAKNA DAN BENTUKNYA.

Kita sering mendengar kata “spiritualitas,” namun biasanya kita kesulitan untuk menerjemahkan atau mendefinisikan maknanya secara tepat. Akhirnya kita cenderung mempersempit makna “spiritulitas” yang berarti agama. Misalnya saja, jika kita membaca kata “spiritualitas Kristiani” maka tafsiran terhadap kata ini adalah kita sedang memperbincangkan agama Kristen. Padahal “spiritualitas” lebih luas dan lebih dalam daripada sekedar agama.

Kata “spiritualitas” muncul pertama kali dalam agama Kristen. Saat ini “spiritualitas” tidak lagi dapat dikenakan “hanya” untuk agama Kristen, karena “spiritulitas” secara umum menunjuk pada semua agama dan budaya. Bahkan secara luas, spiritualitas berhubungan dengan peningkatan kehidupan secara holistik dan kesejahteraan manusia.[3] Dalam dunia barat, yang dipengaruhi oleh filsafat, ada empat kata yang digunakan untuk menerjemahkan “spiritualitas. Keempat kata yang memakai bahasa Yunani tersebut adalah psyche, pneuma, thumos, nous. Psyche diterjemahkan sebagai nafas, sedangkan pneuma adalah angin.[4] Ursula King membedakan keduanya, yaitu Psyche adalah jiwa manusia secara pribadi, sedangkan Pneuma berhubungan dengan relasi pribadi manusia dengan sesuatu yang lebih luas daripada dirinya, misalnya alam semesta atau kehidupan itu sendiri.[5] Sedangkan kata thumos menggambarkan vitalitas kehidupan seperti kehendak, perasaan, jiwa dan semangat hidup. Nous berhubungan dengan akal budi, semangat, hati, intuisi, dan pola pikir.[6]

Kata-kata lain yang digunakan untuk “spiritualitas” adalah ruah (Ibrani), sophia (Yunani), dan Geist (Jerman). Ruah dikaitkan dengan udara, angin, nafas yang tidak berwujud, namun dapat dirasakan oleh dan di dalam tubuh kita; tidak dapat diraih dan digenggam. Sophia, berhubungan dengan hikmat kebijaksanaan, kualitas dan semangat hidup yang akan menolong kita menemukan makna hidup. Geist adalah elemen paling penting dalam hidup manusia, “the life of life,” dan kekuatan alami tertinggi yang kita miliki.[7] Sedangkan dalam konteks Asia, khususnya dalam agama Hindu dan Buddha, spiritualitas menggunakan kata mokhsa dan nirvana yang sering diterjemahkan dengan pembebasan (liberation) dan pencerahan (enlightenment).[8]

Dalam kekristenan, spiritualitas (berasal dari bahasa latin: spiritus) adalah segala sesuatu yang berasal dari Roh Allah. Spiritualitas dalam diri manusia merupakan kekuatan yang membuat mereka terbuka terhadap segala sesuatu yang datangnya dari Roh Kudus. Kata “spiritualitas” pertama kali ditemukan dalam surat St. Jerome (awal abad ke-15), yang disebutnya sebagai hasil dari anugerah baptisan.[9]

Dengan kayanya makna “spiritualitas,” maka King lebih memilih menerjemahkan kata ini bukan pada artinya, melainkan apa yang dilakukan spiritualitas.

Spirituality can be linked to all human experiences, but it has a particularly close connection with the imagination, with human creativity and resourcefulness, with relationships – whether with ourselves, with others, with a transcendent reality, named or unnamed, but often called the Divine, God or Spirit. Spirituality can also be connected with a sense of celebration and joy, with adoration and surrender, with struggle and suffering.[10]

Dari masa ke masa bentuk-bentuk spiritualitas mengalami perubahan. Di abad ke-20 ini, berbagai bentuk spiritualitas dipengaruhi oleh perkembangan dunia yang muncul dari dalam maupun luar gereja. Gerakan pentakosta membawa pengaruh pada bentuk spiritualitas yang menekankan pada kesalehan pribadi dan karunia Roh Kudus. Gerakan ekumene pun memberi pengaruh pada spiritualitas bersama antar denominasi gereja. Kegiatan seperti ibadah, pemahaman Alkitab, khotbah dilakukan secara luas, tidak terbatas pada satu denominasi, melainkan interdenominasi.[11] Abad ke-20 ditandai pula besarnya minat orang pada mysticism.[12] Minat ini melahirkan model spiritualitas yang berupaya menikmati yang mistis dan lahirlah bentuk-bentuk kontemplasi atau meditasi yang menekankan pada praktek ibadah pribadi dengan Tuhan. Teologi pembebasan yang bertumbuh pesat di abad ke-20 membentuk spiritualitas yang memperjuangkan kebebasan dari ketertindasan, pengampunan, kasih dan misi untuk melawan segala bentuk kekerasan. Tokoh-tokoh spiritualitas dari teologi pembebasan diantaranya D. Bonhoeffer, C.S. Lewis, Thomas Merton dan Dorothy Day.[13]

  1. 3. MEDITASI KRISTEN: SPIRITUALITAS DULU ATAU KINI?

Swami Rama, salah satu tokoh meditasi Kristen International, menjelaskan bahwa meditasi dalam kekristenan bukanlah hal yang baru. Selain Alkitab, praktek meditasi sudah dilakukan oleh gereja dari masa ke masa. Misalnya saja 310 Ad, St. Anthony di biaranya mengajarkan para rahib untuk bermeditasi. Meditasi yang diajarkan mempraktekkan doa keheningan. Demikian pula pada abad ke-5, biara Hesychast maupun pada abad selanjutnya beberapa biara Kristen mempraktekkan meditasi dengan menggunakan teknik pengaturan pernafasan.[14]

Rev. Lawrence Bouldin dalam tulisannya yang berjudul “Meditation in the Bible” menunjukkan bahwa Alkitab banyak berbicara tentang meditasi. “Carilah dulu Kerajaan Allah” disebutnya sebagai ajaran Yesus yang penting dalam membukakan kesadaran manusia tentang kesatuan dirinya dengan Allah. Demikian pula ketika tujuan dari meditasi adalah mencapai pertumbuhan spiritual, menurut Bouldin, Alkitab pun mencatat pentingnya kehidupan iman yang bertumbuh dari anak-anak menuju kedewasaan (Ibrani 4: 13-14). Kemurnian pikiran dan hati yang menjadi pokok penting dari meditasi, ada punya dalam perintah Yesus: “Siapakah bertelinga hendaklah dia mendengar,” atau pada surat Paulus dalam 1 Korintus 2: 7-12). Kesatuan antara manusia dan Tuhan terlihat pula dalam perkataan Yesus: “Akulah Jalan, dan Kebenaran, dan Hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kecuali melalui Aku” (Yoh. 14: 6). Demikian pula misi pembebasan yang muncul dalam meditasi, muncul pula dalam Alkitab, mis. misi Yesus dari kutipan kitab Yesaya dalam Yesaya 61: 1 atau Matius 11: 5.[15]

Baik Swami Rama maupun Bouldin dalam tulisan mereka sebenarnya ingin menunjukkan bahwa meditasi Kristen bukanlah hal yang baru, walaupun sekarang ini seolah “terlihat” baru. Namun masalahnya adalah seperti yang telah diungkapkan diatas, praktek meditasi Kristen masa kini melakukan beberapa tahap yang disebut-sebut sebagai adopsi dari agama Asia atau yoga. Tahap-tahap meditasi Kristen tersebut adalah duduk dengan sikap rileks dan mengatur pernafasan dengan menggunakan mantra. Kemudian dengan dipandu oleh pendeta, mencabut kesadaran material mereka, mengarahkan pikiran pada mantra yang diucapkan, menuju pada kesatuan dengan Tuhan serta memperkecil batas-batas emosional dan rasio. Meditasi Kristen pun menaikan doa-doa yang berisi pembebasan, serta menuju pada kesatuan dengan Allah dalam tubuh.[16]

Saya ingin menjawab pertanyaan dan pernyataan awal di atas melalui beberapa hal pokok.

  1. Elemen Spiritualitas.

Thom Parrot-Sheffer dalam disertasinya mengungkapkan ada 13 elemen spiritualitas. Elemen-elemen tersebut dibaginya dalam dua bagian: pre-conditions (apa yang mau dicapai dalam spiritualitas) dan spiritual tools. Parrot-Sheffer menggambarkannya sebagai berikut:[17]

PRE-CONDITIONS

SPIRITUAL TOOLS

Community

Holy Word

Openness

Silence

Intentionally

Prayer

Balance

Contemplation

 

Ritual

 

Creativity

 

Narrative

 

Servanthood

 

Action/Behavior

Elemen-elemen yang disampaikan oleh Parrot-Sheffer menunjukkan bahwa dalam bentuk/praktek spiritualitas penggunaan mantra, doa, ritual, dll., adalah hal yang biasa. Meditasi Kristen saat ini adalah salah satu dari praktek spiritual. Ada berbagai bentuk/praktek spiritual yang memiliki ciri-ciri elemen di atas dan mirip dengan meditasi Kristen. Misalanya saja, saya pernah mengikuti kelas “Dance Meditation.” Kelas ini mengajarkan meditasi alias berjumpa/berhubungan dengan Allah dengan menggunakan dan menggerakan tubuh kita sebagai bagian dari ritual ibadah. Atau praktek meditasi dengan menghubungkan bagian tubuh (dhi. tangan) kita dengan orang lain sebagai cara melakukan koneksi dengan sesama dan Tuhan.

  1. Spiritualitas Kristen Asia.

Pada masa perang dunia I dan II, muncul superioritas kelompok kulit putih terhadap kelompok kulit berwarna. Orang kulit putih merasa paling beradab, berbudaya tinggi dan terdidik. Sedangkan orang kulit berwarna dianggap sebagai tidak beradab, berbudaya rendah dan bodoh. Superioritas ini mengental masuk dalam nilai-nilai keagamaan, bahkan diakui sebagai bagian dari spiritualitas. Misalnya saja, gereja mengklaim bahwa budaya barat adalah budaya Kristen. Para pekabar Injil yang melayani di Indonesia pada waktu itu pun memahami semangat yang sama. Orang daerah yang masuk Kristen, misalnya, harus membuang nama asli mereka dan menggantinya dengan nama-nama barat atau minimal Alkitabiah seperti Paulus Ndukuh, John Rajawane, dll. Atau penduduk Timor ketika menjadi Kristen harus meninggalkan ketelanjangan mereka dan menggantinya dengan mengenakan pakaian ala barat.

Pada masa kini di masa posmodernisme, gambaran di atas sudah mulai berubah. Superioritas barat berubah menjadi semangat saling menghargai dan saling menerima antar sesama. Pengalaman masa lalu di mana superioritas membawa kesengsaraan dan penindasan terhadap sesama mulai berganti dengan pemahaman baru bahwa semua makhluk punya derajat, hak dan kesempatan yang sama di hadapan Tuhan, maupun hukum. Oleh karena itu dalam studi-studi poskolonial, semangat mengangkat budaya lokal dengan kearifan lokalnya menjadi salah satu unsur penting dalam kehidupan bersama di dunia.

Samuel Rayan, seperti yang dikutip oleh Virginia Fabella, dkk., mengatakan bahwa spiritualitas Kristen Asia tidak hanya menggali dari sumber-sumber kepercayaan tradisional tetapi juga menggali cerita-cerita manusia (perempuan, pemuda, orangtua, atau korban kekerasan) yang berjuang untuk kebebasan dan kehormatan bagi martabat, luka dan harapan mereka.[18] Karena itu Rayan mengusulkan salah satu model spiritualitas adalah kontemplasi yang merupakan kekayaan budaya lokal orang Asia.[19] Dengan demikian meditasi Kristen bisa menjadi salah satu alternatif spiritualitas lokal Asia yang dapat kita kembangkan dan gunakan dalam kasana hidup spiritualitas kita.

c. Spiritualitas di dunia Plural dan Multikultural.

Sejarah mencatat penderitaan manusia salah satu penyebabnya adalah ketika manusia tidak bisa menerima dan menghargai perbedaan. Padahal perbedaan antar sesama ciptaan sudah ada sejak Tuhan menciptakan seluruh makhluk. Namun sayangnya manusia belajar paham yang salah tentang perbedaan. Perbedaan dianggap merusak bahkan menghancurkan semangat persatuan dan kesatuan.

Salah satu tragedi kemanusian yang hampir terjadi di seluruh dunia, adalah kekerasan karena perbedaan agama. Di Indonesia, contohnya, kita sudah berpengalaman bagaimana kekerasan dan penderitaan kita disebabkan oleh sulitnya menghargai perbedaan agama, menerima orang lain yang berbeda agama untuk ada bersama-sama dengan kita.

Oleh karena itu dalam dunia plural dan multikultural saat ini, spiritualitas yang muncul harusnya juga berbicara tentang penghargaan dan penghormatan terhadap agama/kepercayaan lain. Ursula King mengatakan dalam spiritualitas harus terjadi dialog antar iman/agama. Dialog antar iman akan membuka sumbatan-sumbatan yang selama ini menghalangi sikap menerima dan menghargai antar pemeluk agama/kepercayaan. King mengusulkan adanya “interfaith spirituality.” Dalam prakteknya, spiritualitas ini terwujud dalam ibadah bersama antar iman, atau beberapa tradisi agama/kepercayaan tertentu diberikan nilai baru sesuai dengan kepercayaan/agama tertentu.[20]

Beberapa gereja Katolik sudah menghadirkan interfaith spirituality dalam ibadah mereka. Misalnya, The Mercy Center di Berlingame, California, memadukan antara Katolik dengan Zen-Buddhist. Patung Yesus berwajah Yesus yang duduk bersila seperti sikap duduk Buddha Gautama. Mereka pun menggunakan labyrinth sebagai salah satu ritual doa mereka.[21]

  1. 4. PENUTUP

Meditasi Kristen yang berkembang saat ini ternyata bukanlah praktek spiritualitas baru dalam dunia ini. Meditasi Kristen ternyata hanya salah satu bagian kecil dari bentuk dan praktek spiritualitas dalaam hidupa manusia. Secara historis, praktek meditasi Kristen sudah dilakukan sejak berabad-abad lalu. Begitu pula secara filosofis, meditasi Kristen menganut elemen-elemen spiritualitas. Demikian pula Meditasi Kristen merupakan salah satu upaya mencari bentuk spiritualitas Kristen Asia dalam rangka menjawab tantangan kehidupan plural dan multikultural saat ini.

Sekalipun Meditasi Kristen menggunakan beberapa metode meditasi milik Yoga, namun berbeda dengan Yoga. Yoga lebih pada teknik olah tubuh untuk mencapai ketenangan diri. Tetapi meditasi Kristen berpusat pada Allah. Seperti kontemplasi, meditasi Kristen merupakan bagian dari perefleksian diri dalam hubungannya dengan Allah. Penggunaan mantra sebagai the magic word bukan kata-kata yang ajaib bisa mengubah keadaan seperti yang kita inginkan. “Mantra” yang digunakan tidak ada bedanya dengan doa-doa yang kita naiknya. Hanya saja, “mantra” dalam meditasi Kristen digunakan sebagai upaya memusatkan pikiran, hati, diri kepada Allah.


[1] Disampaikan untuk Pusat Pembinaan Warga Gereja STT Jakarta dengan tema “Meditasi dalam Gereja untuk Memperdalam Spiritualitas” pada tanggal 27 Maret 2010.

[2] Lih. artikel karya Ir. Herlianto, M.Th yang berjudul: “Meditasi atau Doa?” Herlianto menyitir Meditasi Kristen sebagai bagian dari paham Gerakan Zaman Baru yang mengagungkan self consciousness daripada God consciousness. Sekalipun Meditasi Kristen berupaya untuk memperjumpakan manusia dengan Allah namun menurutnya penggambaran Allah dalam kekristenan dengan Allah dalam meditasi Kristen sangat berbeda. Selain itu Herlianto menyebutkan bahwa sinkretisme agama terjadi dalam praktek Meditasi Kristen. Meditasi Kristen yang prakteknya dilakukan dengan cara duduk dan mengatur pernafasan serta melafalkan mantera dicurigainya sebagai percampuran dari agama/kepercayaan lain seperti Hinduisme/Taoisme (penyatuan diri dengan sumber ‘yang ada’), Zen-Buddhisme (penyatuan diri dengan sumber yang ‘tidak ada,’ serta berorientasi pada diri sendiri dan alam – http://www.yabina.org/layout.htm (accessed by March 25, 2010).

[3] Ursula King, The Search for Spirituality: Our Global Quest for Meaning and Fulfilment, (Norwich: Canterbury, 2009), 3.

[4] Ibid., 5.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Ibid., 6

[8] Ibid., 8

[9] Ibid., 7

[10] Ibid., 3

[11] Salah satu komunitas spiritualitas interdenominasi terbesar adalah komunita Taize di Perancis.

[12] Mysticism berasal dari bahasa Yunani yang berarti “menyembunyikan.” Dalam dunia Helenistik, hal ini berhubungan dengan ritual keagamaan yang bersifat rahasia. Sedangkan dalam dunia kekristenan, hal ini berhubungan dengan hasil yang tersembunyi dari penafsiran terhadap teks Alkitab – lih. http://plato.stanford.edu/entries/mysticism/ (accessed by March 26, 2010). Mysticism pun seringkali diartikan sebagai usaha manusia untuk bersekutu dengan, berhubungan dengan, memiliki kesadaran tentang relaitias tertinggi, atau yang suci atau Tuhan melalui pengalaman, intuisi, perasaan maupun pikiran – lih. http://en.wikipedia.org/wiki/Mysticism (accessed by March 26, 2010).

[13] Charles J. Healey, SJ., Christian Spirituality: An Introduction to the Heritage, (New York: St. Pauls, 1999), 371-403

[14] Swami Rama, “Meditation in Christianity,” in Swami Rama (ed.), Meditation in Christianity, (Pennsylvania: The Himalayan International Institute, 1989), 6-9.

[15] Lawrence Bouldin, Meditation in the Bible, in Swami Rama (ed.), Meditation in Christianity, 19-32

[16] Swami Rama, ibid., 14-16.

[17] Thom Parrott-Sheffer, P*A*T*H Living in The Spirit: A Guide To A Fuller Relationship with God, (Berkeley: The Church Divinity School of the Pacific), a dissertation Doctor of Ministry, 31.

[18] Virginia Fabella, Peter K.H. Lee & David Kwang-sun Suh, “Introduction”, in Asian Christian Spiritual (New York: Orbiss Books, 1992), 3.

[19] Samuel Rayan, “The Search for An Asian Spiritual of Liberation,” in Asian Christian Spiritual, ibid. 23. Sayangnya apabila praktek spiritual menggunakan budaya/tradisi lokal Asia setempat, seringkali kita di cap melakukan sinkritesme agama. Hal ini terjadi karena kita sudah ditanamkan paham bahwa budaya Asia adalah budaya Buddhis maupun Hindunis. Apa-apa yang berbau meditasi seringkali dianggap sebagai sikretisme dengan Buddha atau Hindu.

[20] Ursula King, The Search for Spirituality, Ibid., 57-77.

[21] http://www.mercy-center.org/ProgramsEW/EWMeditation.html

Sumber: http://www.gkikayuputih.or.id/meditasi-kristen/

(Nantikan Seri Pembinaan selanjutnya!)
 

 | ARSIP |

 


 

Copyright © 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.